Jumat, 26 September 2014

Namaku Noor Jannah

Namaku Noor Jannah. Biasa dipanggil Janah. Aku lahir pada tanggal … Agustus … di kota Dodol, alias Kandangan. Ayahku bernama … dan ibuku bernama …. Ayahku seorang tukang bersih di pinggir jalan, sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku mempunyai 5 saudara. … nama kakakku yang sudah meninggal, dia saudara kandungku. … dan … adalah adikku, anak dari ayahku. … dan … juga adikku, mereka anak dari ibuku.

            Sejak aku masih dalam kandungan ibu dan ayahku sudah cerai. Kemudian ayahku menikah lagi. Setelah aku lahir aku tinggal bersama ibu dan nenek. Ketika aku sekolah Taman Kanak-kanak (TK) nenekku meninggal dunia dan ibuku menikah. Aku dititipkan dengan bibiku, saudara ayahku. Sejak saat itulah aku hidup di lingkungan yang penuh dengan pendidikan.

            Kelas 1 SD aku pindah ke Negara ikut ibuku bersama suaminya yang baru. Aku terhenti sekolah. Aku sangat sedih karena tertinggal satu tahun dari teman-temanku. Aku hidup di lingkungan keluarga tak berada. Memang karena ayah tiriku hanya seorang pencari ikan dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, sedangkan jumlah tanggungan tak sebanding. Ayahku mempunyai empat orang anak dari istrinya yang telah meninggal dunia, satu orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Yang perempuan ikut dengan bibinya, sedangkan dua orang laki-laki tinggal bersama ayahnya dan satunya lagi sudah menikah. Disini aku tinggal bersama ibuku, ayah tiriku, dua orang kakak tiriku, dan dua adikku (saudara seibu). Aku mulai merasakan betapa pedihnya kehidupan dikeluarga ini. Makan saja harus berbagi.

Kemudian Alhamdulillah aku bisa masuk sekolah bersama dengan kakak tiriku yang perempuan. Aku sering dijahili kakakku dan teman-temannya. Tidak hanya di rumah, bahkan di sekolah juga sering dijahili. Namun, aku tidak pernah putus asa. Bagiku kerasnya kehidupan tak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita, aku selalu juara. Dan Alhamdulillah aku tak pernah keluar dari 3 besar di sekolah.

Hampir sudah kenaikan kelas. Sayangnya aku terhenti lagi sekolah. Entah kenapa aku tidak mengerti, aku harus tinggal bersama bibiku lagi. Kemudian aku pindah lagi ke Kandangan. Aku harus mengulang sekolah lagi. Aku tertinggal dua tahun dari teman-temanku karena pindah-pindah tak karuan. Sejak saat itulah sampai sekarang aku tinggal bersama bibiku, saudara ayahku. Namanya …, ia seorang petani. Umurnya hampir 75 tahun. Dia sangat rajin beramal dan bekerja. Bahkan aku yang muda tak mampu menandingi beliau. Dia adalah matahari bagiku. Dia yang membesarkanku dan juga mendidikku hingga sekarang aku kuliah. Alhamdulillah dengan bimbingan bibiku aku bisa mengaji, bisa sholat, bisa bertani dan hidup dengan nuansa islami. Dari pengalamanku bertani waktu SD membuatku bercita-cita tinggi, kalau bisa aku tidak ingin menjadi petani karena sudah tahu lelahnya bertani. Dari bertani juga aku paham bahwa kalau kita ingin mendapatkan sesuatu perlu kerja keras dan kesabaran.

Luar biasa jasa bibiku, aku pun tak mampu membalasnya. Beliau membiayaiku hanya dengan uang hasil bertani. Bahkan beliau melaksanakan haji dengan hasil bertani yang beliau tabung sejak muda, dengan jerih payah sendiri. Dia mendidikku dengan ajaran islam. Sejak kecil aku sudah sering dibawa ke pengajian mendengarkan ceramah. Bahkan karena bimbingan beliau juga kelas 3 SD aku sudah khatam al-quran. Mudah-mudahan bibi panjang umur, selalu sehat, dan senantiasa dalam rahmat Allah swt. Aamiin….

Tak terasa aku lulus Sekolah Dasar (SD).  Aku hampir terhenti sampai disini, tapi guru agamaku di SD membantuku agar bisa melanjutkan sekolah lagi. Guruku berusaha membujuk bibiku agar mau menyekolahkanku lagi dan beliau memberi beberapa pakaian untuk sekolah nantinya. Lama kelamaan luluh juga hatinya, bibiku mau menyekolahkanku. Akhirnya aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Amawang Kandangan.

            Kelas IX aku kehilangan sepeda. Merupakan kenangan yang paling pahit. Aku tidak berani pulang karena takut dimarahi. Aku tidak terbayangkan bagaiamana marahnya bibiku, karena bagi kami uang seribu saja sangat berarti. Apalagi hilang sepeda yang harganya ratusan ribu. Menangis dan terus menangis. Kemudian ada salah satu guruku yang menghubungi bibiku memberitahu bahwa aku kehilangan sepeda dan berpesan kepada bibiku agar tidak memarahiku nanti dan juga guruku berjanji akan mengganti sepeda yang hilang itu. Setelah itu barulah aku berani pulang ke rumah.

            Beberapa hari kemudian sepedaku diganti. Sepeda yang sangat berarti, uang kumpulan guru-guruku. Sejak dulu kalau siswa kehilangan sepeda tidak pernah diganti, baru akulah yang semua guru ikut andil membantu mengganti sepedaku. Mereka berharap agar aku bisa menggunakan sepeda sebaik-baiknya dan bisa melanjutkan sekolah lagi menggunakan sepeda itu.

            Kemudian aku melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah Negeri 2 Kandangan. Aku memanfaatkan uang beasiswa yang kuterima terakhir waktu pengumuman kelulusan dan juga menggunakan sepeda sesuai harapan guruku. Aku memilih jurusan agama. Aku suka pelajaran yang berhubungan dengan agama. Juga karena aku bisa pinjam buku sepupuku yang jurusan agama. Memang sejak Tsanawiyah aku selalu meminjam buku sepupuku karena untuk mengehemat biaya. Namun sayangnya sekarang aku tidak bisa lagi mengikuti langkahnya, dia sekolah pondok sedangkan aku kuliah.

Alhamdulillah. Sekarang aku kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan sekarang menempuh semester 5.

            Aku kuliah dengan bantuan guru-guruku. Aku sangat bersyukur karena tak menyangka yang dulunya maunya stop sampai lulus Sekolah Dasar saja ternyata bisa kuliah. Takdir tak bisa dipungkiri. Aku bisa kuliah seperti teman-temanku.

            Guruku yang mendaftarkanku masuk kuliah. Sampai uang pendaftaran juga dibayarkan. Aku didaftarkan di IAIN dan UNLAM. Aku lulus kedua-duanya. Namun, beasiswanya di IAIN waktu itu belum pasti sedangkan di Unlam sudah pasti. Jadi aku harus mengambil di Unlam. Sangat disayangkan aku harus melepas IAIN, padahal aku maunya kuliah jurusan Bahasa Arab. Padahal seharusnya minimal aku masuk IAIN karena tidak pondok. Memang sejak lulus SD aku mau sekolah pondok, tapi belum mendapatkan izin dari keluarga. Semoga nanti aku bisa sekolah pondok.

Dengan berat hati aku kuliah di Unlam, apalagi jurusannya Bahasa dan Sastra, sedangkan aku benci hal-hal yang berbau sastra. Tapi, karena sudah dijalani dua tahun ternyata aku sangat suka dengan sastra. Sastra itu sangat indah kalau dipelajari. Hingga sekarang aku senang mengarang. Dan inilah sedikit karangan tentang ceritaku.

Di balik liku-liku kehidupan pasti ada hikmah yang tersembunyi. Aku yakin Allah lebih mengetahui tentang jalan hidupku dan Dia maha adil. Skenario Allah lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Dunia hanyalah panggung sandiwara, maka jadilah pemain yang terbaik.

Dengan demikian maka semangatku ada pada orang tuaku, bibiku, guru-guruku, keluargaku, dan orang yang aku sayang. Aku ingin sekali datang menemui orang tuaku, guruku, keluargaku, dan orang yang selalu mengejekku mengatakan bahawa aku SUKSES berkat kalian.

 Dengan cerita di atas semoga kalian bisa mengambil hikmah. Doa’aku selalui menyertai kalian duhai orang-orang yang aku cintai. Semoga kalian panjang umur dan hidup berkah, sehat, banyak rezeki, dan selalu dalam rahmat Allah swt. Aamiin… :-)