Namaku Noor Jannah. Biasa dipanggil Janah. Aku lahir pada tanggal …
Agustus … di kota Dodol, alias Kandangan. Ayahku bernama … dan ibuku
bernama …. Ayahku seorang tukang bersih di pinggir jalan, sedangkan
ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku mempunyai 5 saudara. … nama kakakku
yang sudah meninggal, dia saudara kandungku. … dan … adalah adikku, anak dari ayahku. … dan … juga adikku, mereka anak dari ibuku.
Sejak aku masih dalam kandungan ibu dan ayahku sudah cerai. Kemudian
ayahku menikah lagi. Setelah aku lahir aku tinggal bersama ibu dan
nenek. Ketika aku sekolah Taman Kanak-kanak (TK) nenekku meninggal dunia
dan ibuku menikah. Aku dititipkan dengan bibiku, saudara ayahku. Sejak
saat itulah aku hidup di lingkungan yang penuh dengan pendidikan.
Kelas 1 SD aku pindah ke Negara ikut ibuku bersama suaminya yang baru.
Aku terhenti sekolah. Aku sangat sedih karena tertinggal satu tahun dari
teman-temanku. Aku hidup di lingkungan keluarga tak berada. Memang
karena ayah tiriku hanya seorang pencari ikan dan ibuku hanya seorang
ibu rumah tangga, sedangkan jumlah tanggungan tak sebanding. Ayahku
mempunyai empat orang anak dari istrinya yang telah meninggal dunia,
satu orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Yang perempuan ikut
dengan bibinya, sedangkan dua orang laki-laki tinggal bersama ayahnya
dan satunya lagi sudah menikah. Disini aku tinggal bersama ibuku, ayah
tiriku, dua orang kakak tiriku, dan dua adikku (saudara seibu). Aku
mulai merasakan betapa pedihnya kehidupan dikeluarga ini. Makan saja
harus berbagi.
Kemudian Alhamdulillah aku bisa masuk sekolah
bersama dengan kakak tiriku yang perempuan. Aku sering dijahili kakakku
dan teman-temannya. Tidak hanya di rumah, bahkan di sekolah juga sering
dijahili. Namun, aku tidak pernah putus asa. Bagiku kerasnya kehidupan
tak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita, aku selalu juara. Dan
Alhamdulillah aku tak pernah keluar dari 3 besar di sekolah.
Hampir
sudah kenaikan kelas. Sayangnya aku terhenti lagi sekolah. Entah kenapa
aku tidak mengerti, aku harus tinggal bersama bibiku lagi. Kemudian aku
pindah lagi ke Kandangan. Aku harus mengulang sekolah lagi. Aku
tertinggal dua tahun dari teman-temanku karena pindah-pindah tak karuan.
Sejak saat itulah sampai sekarang aku tinggal bersama bibiku, saudara
ayahku. Namanya …, ia seorang petani. Umurnya hampir 75 tahun. Dia
sangat rajin beramal dan bekerja. Bahkan aku yang muda tak mampu
menandingi beliau. Dia adalah matahari bagiku. Dia yang membesarkanku
dan juga mendidikku hingga sekarang aku kuliah. Alhamdulillah dengan
bimbingan bibiku aku bisa mengaji, bisa sholat, bisa bertani dan hidup
dengan nuansa islami. Dari pengalamanku bertani waktu SD membuatku
bercita-cita tinggi, kalau bisa aku tidak ingin menjadi petani karena
sudah tahu lelahnya bertani. Dari bertani juga aku paham bahwa kalau
kita ingin mendapatkan sesuatu perlu kerja keras dan kesabaran.
Luar
biasa jasa bibiku, aku pun tak mampu membalasnya. Beliau membiayaiku
hanya dengan uang hasil bertani. Bahkan beliau melaksanakan haji dengan
hasil bertani yang beliau tabung sejak muda, dengan jerih payah sendiri.
Dia mendidikku dengan ajaran islam. Sejak kecil aku sudah sering dibawa
ke pengajian mendengarkan ceramah. Bahkan karena bimbingan beliau juga
kelas 3 SD aku sudah khatam al-quran. Mudah-mudahan bibi panjang umur,
selalu sehat, dan senantiasa dalam rahmat Allah swt. Aamiin….
Tak
terasa aku lulus Sekolah Dasar (SD). Aku hampir terhenti sampai disini,
tapi guru agamaku di SD membantuku agar bisa melanjutkan sekolah lagi.
Guruku berusaha membujuk bibiku agar mau menyekolahkanku lagi dan beliau
memberi beberapa pakaian untuk sekolah nantinya. Lama kelamaan luluh
juga hatinya, bibiku mau menyekolahkanku. Akhirnya aku sekolah di
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Amawang Kandangan.
Kelas IX aku kehilangan sepeda. Merupakan kenangan yang paling pahit.
Aku tidak berani pulang karena takut dimarahi. Aku tidak terbayangkan
bagaiamana marahnya bibiku, karena bagi kami uang seribu saja sangat
berarti. Apalagi hilang sepeda yang harganya ratusan ribu. Menangis dan
terus menangis. Kemudian ada salah satu guruku yang menghubungi bibiku
memberitahu bahwa aku kehilangan sepeda dan berpesan kepada bibiku agar
tidak memarahiku nanti dan juga guruku berjanji akan mengganti sepeda
yang hilang itu. Setelah itu barulah aku berani pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian sepedaku diganti. Sepeda yang sangat berarti,
uang kumpulan guru-guruku. Sejak dulu kalau siswa kehilangan sepeda
tidak pernah diganti, baru akulah yang semua guru ikut andil membantu
mengganti sepedaku. Mereka berharap agar aku bisa menggunakan sepeda
sebaik-baiknya dan bisa melanjutkan sekolah lagi menggunakan sepeda itu.
Kemudian aku melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah Negeri 2 Kandangan.
Aku memanfaatkan uang beasiswa yang kuterima terakhir waktu pengumuman
kelulusan dan juga menggunakan sepeda sesuai harapan guruku. Aku memilih
jurusan agama. Aku suka pelajaran yang berhubungan dengan agama. Juga
karena aku bisa pinjam buku sepupuku yang jurusan agama. Memang sejak
Tsanawiyah aku selalu meminjam buku sepupuku karena untuk mengehemat
biaya. Namun sayangnya sekarang aku tidak bisa lagi mengikuti
langkahnya, dia sekolah pondok sedangkan aku kuliah.
Alhamdulillah.
Sekarang aku kuliah di Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan sekarang menempuh semester
5.
Aku kuliah dengan bantuan guru-guruku. Aku sangat
bersyukur karena tak menyangka yang dulunya maunya stop sampai lulus
Sekolah Dasar saja ternyata bisa kuliah. Takdir tak bisa dipungkiri. Aku
bisa kuliah seperti teman-temanku.
Guruku yang
mendaftarkanku masuk kuliah. Sampai uang pendaftaran juga dibayarkan.
Aku didaftarkan di IAIN dan UNLAM. Aku lulus kedua-duanya. Namun,
beasiswanya di IAIN waktu itu belum pasti sedangkan di Unlam sudah
pasti. Jadi aku harus mengambil di Unlam. Sangat disayangkan aku harus
melepas IAIN, padahal aku maunya kuliah jurusan Bahasa Arab. Padahal
seharusnya minimal aku masuk IAIN karena tidak pondok. Memang sejak
lulus SD aku mau sekolah pondok, tapi belum mendapatkan izin dari
keluarga. Semoga nanti aku bisa sekolah pondok.
Dengan berat hati
aku kuliah di Unlam, apalagi jurusannya Bahasa dan Sastra, sedangkan aku
benci hal-hal yang berbau sastra. Tapi, karena sudah dijalani dua tahun
ternyata aku sangat suka dengan sastra. Sastra itu sangat indah kalau
dipelajari. Hingga sekarang aku senang mengarang. Dan inilah sedikit
karangan tentang ceritaku.
Di balik liku-liku kehidupan pasti ada
hikmah yang tersembunyi. Aku yakin Allah lebih mengetahui tentang jalan
hidupku dan Dia maha adil. Skenario Allah lebih indah dari apa yang kita
bayangkan. Dunia hanyalah panggung sandiwara, maka jadilah pemain yang
terbaik.
Dengan demikian maka semangatku ada pada orang tuaku,
bibiku, guru-guruku, keluargaku, dan orang yang aku sayang. Aku ingin
sekali datang menemui orang tuaku, guruku, keluargaku, dan orang yang
selalu mengejekku mengatakan bahawa aku SUKSES berkat kalian.
Dengan
cerita di atas semoga kalian bisa mengambil hikmah. Doa’aku selalui
menyertai kalian duhai orang-orang yang aku cintai. Semoga kalian
panjang umur dan hidup berkah, sehat, banyak rezeki, dan selalu dalam
rahmat Allah swt. Aamiin… :-)