Senin, 19 Mei 2014

DI BALIK BUSANA MUSLIMAH


DI BALIK BUSANA MUSLIMAH
Kegiatan-kegiatan mengobarkan syahwat yag terus menerus pada akhirnya akan menyulut nafsu syahwat yang tidak terpadamkan dan tidak pernah selesai. Pandangan yang tidak semestinya, gerakan yang erotis, dandanan yang eksotis, dan tubuh yang telanjang, semua itu hanya akan menyulut nafsu atau syahwat binatang yang gila. Dan hasil dari semua itu adalah tidak terkendalinya rangsanagan dan keinginan sehingga menciptakan kekacauan yang tidak bisa terkekang oleh sesuatu pun atau timbulnya penyakit-penyakit saraf dan kekacauan jiwa.
Wanita pada masa jahiliyah sebagaimana jahiliyah modern saat ini berjalan diantara laki-laki dengan bertelanjang dada, tidak menutupnya dengan sesuatu sama sekali dan juga walaupun berpakaian tapi telanjang. Inilah sebuah masa ketika mempertahanakan islam layaknya menggenggam bara api, panas dan gerah, bahkan seolah melukai diri sendiri. Sebab, masyarakat kebanyakan justru berlomba-lomba tidak bersesuai dengannya. Karena itu, setiap yang memegang islam akan dirasa aneh, diasingkan, dan dianggap abnormal.
Bagi waita, perasaan ini mungkin berkali-kali lipat. Mungkin karena wanita makhluk perasa, ditambah konsekuensi wanita saat menjadi muslim  memang terlibat secara nyata. Pengorbanan wanita yang teguh dengan islam  jelas lebih sulit pada zama ini.
Selain itu di tengah zaman yang serba maju dan banyaknya pengaruh dari dunia luar dan dunia barat, maka tidak heran bila perkembagan model pakaian semakin marak. Sebagai kiblatnya, negeri Paris yang dikenal sebagai gudangnya mode menjadi acuan untuk penentuan trend mode pakaian masa kini. Sehingga corak dan ragam pakaian sangat bervariasi.
            Akan tetapi, seorang wanita muslim haruslah tetap memperhatikan kaidah-kaidah berpakaian yang tepat dan benar. Apakah yang dimaksud dengan pakaian menurut kecamata masyarakat kita sekarang ini? Dan apa pula maksudnya menurut kecamata syariat islam?
            Orang yang mendalami aturan sosial dan mempelajari peradaban dalam kecamata masyarakat saat ini, menilai bahwa pakaian hanya digunakan sebagai hiasan atau sekadar untuk menutup bagian anggota tubuh yang tabu diperlihatkan, tidak untuk menutupi aurat.
            Akan tetapi, islam dalam aturannya yang universal lebih banyak memperhatikan pakaian sebagai penutup aurat, bukan semata-mata hiasan. Untuk itulah, islam memerintahkan kepada setiap laki-laki dan perempuan untuk menutup bagian tubuh mereka yang menimbulkan daya tarik bagi orang lain.
            Hal paling mendasar bagi sorang wanita muslim adalah berpakaian yang dapat menutup auratnya, kecuali muka dan telapak tangan. Selain itu di tengah maraknya perkembangan mode yang kian menjamur ini wanita muslimah haruslah tetap menjunjung tinggi kesopanan dalam berpakaian. Tidak mengundang syahwat laki-laki non muhrim yang memandangnya. Sehingga selain menjalankan fungsi berpakaian, dia juga menjalankan syariat islam sebagai muslimah  dengan tidak menurunkan dedikasinya sebagai muslimah sejati. Karena pakaian yang dikenakannya bisa mencerminkan kepribadian pemakainya. Bila ia berpakaian secara islami, maka demikianah kepribadian dalam dirinya itu.
Seorang muslimah harus memperhatikan syarat-syarat dalam berpakaian, diantaranya;
1.   Menutup Aurat
Menutup aurat bagi setiap muslim dan muslimah adalah wajib. Aurat wanita meliputi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Satu cara untuk menutup aurat selain memakai pakaian yaitu hendaknya seorang muslimah  mengenakan jilbab (mengulurkan jilbabnya). Allah swt berfirman:
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# @è% y7Å_ºurøX{ y7Ï?$uZtur Ïä!$|¡ÎSur tûüÏZÏB÷sßJø9$# šúüÏRôム£`ÍköŽn=tã `ÏB £`ÎgÎ6Î6»n=y_ 4 y7Ï9ºsŒ #oT÷Šr& br& z`øùt÷èムŸxsù tûøïsŒ÷sム3 šc%x.ur ª!$# #Yqàÿxî $VJŠÏm§ ÇÎÒÈ
Artinya: “Hai Nabi katakanlah  kepada istri-istri kamu, anak-anak gadismu dan istri-istri orang mukmin: hendaklah ia mengulurkan jilbabnya kesaluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab: 59)
2.   Tidak Terlalu Ketat
Pakaian yang disebut menutup aurat tidak hanya menutup lapisan kulit luarnya agar tidak kelihatan oleh kasat mata, tetapi juga pakaian yang longgar, yag tidak meperlihatkan bagian lekuk tubuhnya. Berpakaian ketat sama saja dengan telanjang karena orang lain bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana bentuk tubuhnya. Dalam hal ini rasulullah saw bersabda:
“Wanita-wanita yag berpakaian akan tetapi telanjang, tidak menjaga apa yang seharusnya dijaga, berjalan lenggak-lenggok laksana pelacur, kepala-kepala mereka seperti punuk unta (sombong), mereka tidak akan masuk surga juga tidak akan mendapatkan baunya sama sekali.” (HR. Imam Muslim).
3.   Tidak Transparan
Fungsi dari berpakaian adalah menutup aurat. Sehingga kulit yang ditutupi oleh balutan pakaian tidak tampak oleh mata yang melihatnya. Lain halnya dengan pakaian yang transparan atau tembus pandang sehingga nampak warna kulit wanita yang mengenakannya. Tidak ada bedanya juga dengan orang yang tidak berpakaian.
Rasulullah saw bersabda:
“Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: “Rasulullah saw pernah memberikan kepadaku kain tipis dari Qibti (Mesir). Kain itu telah beliau terima dari Dahtah Al-Kalabi, tetapi kemudian saya berikan pakaian itu untuk istriku. Maka Rasulullah menegurku: “Mengapa tidak engkau pakai saja kain dari Qibti itu? Jawabku: “Ya Rasulullah, kain itu telah aku berikan kepada istriku!” Sabda beliau “Suruhlah ia juga memakai kain rangkap di bawah baju Qibti itu, karena aku benar-benar khawatir kain itu akan tetap menampakkan besarnya tulang-tulang (lekuk-lekuk tubuh) istrimu. (HR. Ahmad).
4.   Tidak Mencolok Warnanya
Wanita yang memakai pakaian dengan warna yang mencolok menandakan bahwa dia ingin menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Karena pakaian dengan warna mencolok akan mengundang mata orang lain untuk tertuju kepadanya. Padahal, fungsi dari berpakaian adalah untuk menutup aurat, bukan untuk mencari perhatian orang lain agar tertarik kepadanya. Yang dikhawatirkan adalah pakaian mencolok akan mengundang laki-laki berniat jahat kepadanya karena nafsu untuk memandang wanita yang berpakaian mencolok itu.
5.   Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
Wanita diciptakan mempunyai sifat yang anggun, feminim, dan penuh dengan kelembutan. Hal ini bisa tercermin dari pakaian yang dikenakannya sehari-hari. Namun, seiring berkembangnya zaman, saat ini banyak pakaian wanita yag didesain menyerupai pakaian laki-laki sehingga wanita yang mengenakannya terkesan tomboy atau kelelaki-lakian. Misalnya; dengan memakai celana jeans dan kaos oblong dan berambut cepak layaknya seorang laki-laki. Kalau sudah begini, dia tidak kelihatan feminim lagi, tetapi malah macho seperti halnya laki-laki.
Rasulullah saw bersabda:
Dari Abu Hurairah ra:
“Bahwa Rasulullah saw mengutuk laki-lakiyang berpakaian seperti wanita dan wanita yang berpakaian sepertilaki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i).
6.   Tidak Menyerupai Pakaian Orang Kafir
Pada umumnya, pakaian yag dikenakan wanita kafir itu antik dan tidak meperhatikan kaidah adab dan etika dalam berpakaian. Karena yang ada di pikiran mereka adalah tampil nyentrik dan beda dari yang lain. Meskipun pada kenyataannya banyak di antara mereka yang berpakaian denga mengumbar auratnya. Oleh Karen aitu, sebagai muslimah yag meperhatikan adab berpakaian haruslah memperhatikan cirri khas berpakaian secara islami, yaitu; berjilbab yag mengulur sampai ke dadanya.
7.   Tidak Memakai Pakaian Untuk Maksud Tertentu
Seorang muslim yang menyadari fungsi berpakaian sebagai seorang muslim tahu bahwa pada dasarnya berpakaian adalah untuk menutup auratnya bukan untuk maksud lain, yaitu agar orang lain tertarik kepadanya karena model pakaiannya yang bagus atau karena bentuk bodinya yang aduhai.
       Syarat-syarat yang telah disebutkan bukan dibuat untuk mendiskriminasikan kaum wanita, akan tetapi aturan ini dibuat semata-mata untuk menjaga harkat, martabat, dan kesucian seorang muslimah. Aturan ini dibuat oleh Allah Yang Maha Mengetahui tabiat kaum wanita, dan ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah yang sangat menyayangi ummatnya terlebih bagi kaum wanita. Dan saya selalu berharap, mudah-mudahan Allah berikan pahala yag berlipat ganda bagi yang istiqamah.

Rujukan:
Ulin Muhammad Nuha. 2007. 55 Cinta Allah Terhadap Wanita. Jombang: Lintas Media.
Siauw, Felix. 2013. Yuk, Berhijab. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Umairah, Abdurrahman. 2008. Taman-taman Cinta. Jakarta: PT Mirqat Tebar Ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar