Minggu, 18 Mei 2014

CERPENKU



JODOH YANG TERHALANG ILMU
Di desa Gambir tinggal seorang pemuda yang sederhana dan juga tidak begitu tampan, yaitu Khairullah. Walaupun tidak begitu tampan, tapi dia taat beragama. Dia tinggal bersama ibunya. Tidak jauh dari desa Gambir tersebut tinggal seorang gadis yang bernama Jannatul Ma’wa, selain orangnya cantik dia juga salehah. Mereka berteman akrab.
Suatu hari Khairullah memperkenalkan temannya kepada Jannatul Ma’wa, yaitu Hasan yang juga tidak jauh dari rumahnya. Dia rajin menuntut ilmu dan rajin bekerja. Kemudian Jannatul Ma’wa dan Hasan saling bertukar nomor HP. Mereka sering smsan memabahas masalah agama. Sehingga Hasan penasaran dengan Jannatul Ma’wa.
Sampai pada suatu hari Hasan bertanya kepada Jannatul Ma’wa masalah syariat. Pertanyaan yang dulunya sulit bagi Hasan untuk menjawabnya. Ternyata  Jannatul Ma’wa bisa menjawabnya, sehingga membuat hati Hasan bergejolak dan semakin kagum.
Sore hari Khairullah berkunjung ke rumah Hasan. Khairullah menanyakan tentang Jannatul Ma’wa. Kemudian Hasan menceritakan bagaimana perkenalannya dengan Jannatul Ma’wa selama ini. Khairullah terkejut mendengar cerita Hasan yang begitu cepat perkenalannya. Hasan bingung melihat sikap Khairullah berubah begitu saja, keadaannya murung dan menunduk.
“Ada apa dengan kamu? Apakah perkataanku salah?” tanya Hasan kepada Khairullah.
“Tidak apa-apa.” ucap Khairullah singkat.
Khairullah berusaha memendam perasaannya. Awalnya Khairullah tidak mengetahui bahwa Hasan menyukai Jannatul Ma’wa. Dia mengira mereka berdua  cuma berteman biasa. Khairullah berniat untuk membantu Hasan walaupun sedikit sakit hati karena harus merelakan orang yang diidam-idamkannya.
“San, apakah kamu mencintai Jannatul Ma’wa?” ucap Khairullah.
“Iya, aku bersedia untuk menjadi pendampingnya kalau dia mau.” jawab Hasan malu-malu.
“Bagaimana kalau nanti aku yang menyampaikannya kepada Jannatul Ma’wa tentang perasaan kamu?” tanya Khairullah lagi.
“Iya, terima kasih Rul. Kau memang temanku yang terbaik.” kata hasan memuji Khairullah.
“Sama-sama San.” balas Khairullah dengan senyuman.
Tak terasa hari mulai senja, Khairullah berpamitan ingin pulang.
 “San, aku mau pulang. Sudah lama percakapan kita.” kata Khairullah.
“Iya Rul.” kata Hasan sambil mengantarkan Khairullah ke depan pintu.
 “Assalamualaikum.” kata Khairullah.
“Waalaikumsalam.” balas Hasan sambil melambaikan tangan.
Hasan meninggalkan Khairullah. Langkah dengan penuh harapan Jannatul Ma’wa mau dengannya. Hari-harinya dipenuhi bayangan Jannatul Ma’wa. Setiap selesai salat dia tidak pernah lupa berdoa memohon agar dijodohkan dengan Jannatul Ma’wa.
Khairullah berfikir bagaimana caranya untuk menyampaikan perasaan Hasan kepada Jannatul Ma’wa sementara ia juga sudah lama mengidam-idamkan gadis itu. Bersabar adalah hal yang paling utama bagi Khairullah karena dia tidak ingin membuat Hasan kecewa. Tanpa fikir panjang ia mengambil handphone dan menulis SMS untuk menyampaikan amanat dari Hasan kepada Jannatul Ma’wa. Beberapa menit Khairullah gelisah menunggu jawaban Jannatul Ma’wa. “Ting-ting dibaca dong smsnya.” handphonenya berbunyi pertanda ada sms masuk. Dengan cepat Khairullah mengambil handphonenya dan berharap itu adalah jawaban Jannatul Ma’wa. Ternyata sesuai dengan harapan. Jannatul Ma’wa menyuruh agar berhadapan langsung kalau niatnya itu benar.
Keesokan harinya Khairullah menyampaikan kata-kata Jannatul Ma’wa kepada Hasan.
“San, aku sudah menyampaikan tentang perasaanmu kepada Jannatul Ma’wa sesuai janjiku kemarin. Jannatul Ma’wa menyuruhmu berhadapan langsung kalau niatmu itu benar.” kata Khairullah percaya diri.
“Iya Rul, terima kasih atas informasinya dan sudah membantuku.” kata Hasan malu.
Hasan memberanikan diri untuk menyampaikan masalah ini kepada orang tuanya. Orang tuanya minta waktu untuk memikirkannya dengan matang. Hasan menyetujuinya. Sementara Hasan menunggu keputusan orang tuanya, ia membaca al-quran untuk mengurangi kegelisahan hatinya.  Selesai membaca al-quran ibunya mengajak bicara.
“Nak, kamu sudah yakin dengan pilihanmu?” tanya ibunya.
“Iya Bu, aku sudah memikirkannya dengan matang.” jawab Hasan dengan yakin.
“Kalau begitu besok kita kerumahnya. Ibu berharap kamu tidak salah pilih karena ini untuk selamanya.” kata ibunya.
“Iya Bu, insya Allah.” jawab Hasan dengan gembira.
Hasan bangun pagi-pagi karena tidak sabar lagi ingin melamar Jannatul Ma’wa. Orang tuanya juga bersiap-siap untuk silaturrahmi ke rumah calon menantu. Jarum jam menunjukkan angka 09.00 WITA. Berangkatlah Hasan dan orang tuanya menuju rumah Jannatul Ma’wa. Sesampainya di rumah Jannatul Ma’wa mereka disambut dengan ramah tamah. Kemudian setelah lama berbincang-bincang orang tua Hasan menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar gadis salehah, yaitu Jannatul Ma’wa putri ustad Abdullah. Terjadilah dialog pelamaran. Namun orang tua Jannatul Ma’wa menyerahkan keputusan kepada putrinya. Jannatul Ma’wa mengajukan satu syarat, yaitu kalau bisa menjawab pertanyaannya maka ia boleh menjadi pendamping hidupnya. Pertanyaannya ada tiga, yaitu: (1) Kalau kita kawin nanti apakah kita bahagia?; (2) Kamu alim dan aku alim, apakah pasti taat kepada Allah?; dan (3) Kamu taat dan aku taat, apakah pasti akan masuk surga? Hasan terkejut dan tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa. Dia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Hasan dan orang tuanya pulang dengan hampa.
Keesokan harinya Hasan menceritakan kepada Khairullah bahwa lamarannya ditolak karena tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa. Khairullah sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Kemudian Khairullah juga mencoba untuk melamar Jannatul Ma’wa. Ternyata hasilnya nihil. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa walaupun pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang telah dilemparkan kepada Hasan.
Beberapa hari setelah lamarannya ditolak Hasan terlihat murung dan jarang keluar rumah. Hasan merasa kurang dengan ilmu yang dimilikinya. Kemudian dia berniat sekolah lagi ke Hadral Maut Mesir untuk lebih memperdalam ilmu agama. Demikian juga Khairullah yang tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa merasa miskin ilmu. Dia juga berniat untuk sekolah lagi ke Hadral Maut Yaman. Namun, dia tidak bisa meninggalkan ibunya sendirian di rumah dan sedang sakit-sakitan sehingga dia memilih untuk sekolah di kampung saja, yaitu pondok pesantren Minhajul Abidin.                                       
Tanpa disengaja sepulang dari pengajian Jannatul Ma’wa bertemu dengan Khairullah dan Hasan. Suasana hening seketika.
“San, Khairullah, aku minta maaf. Mungkin selama ini aku banyak berbuat salah dan mengganggu aktivitas kalian, terlebih lagi perasaan kalian.” Jannatul Ma’wa memulai percakapan.
“Iya sama-sama, aku juga minta maaf. Mungkin selama ini aku juga banyak salah. Aku besok akan berangkat ke Yaman untuk menuntut ilmu. Jadi aku mohon doanya.” ucap Hasan.
“Jannah, sebelum kamu minta maaf sudah aku maafkan.” kata Khairullah sambil tersenyum.
“Aku akan selalu mendoakanmu San. Setelah kamu di Yaman nanti jangan lupakan kami ya. Kami disini merindukanmu.” kata Jannatul Ma’wa tersenyum geli.
Ternyata hari ini adalah hari perpisahan antara mereka bertiga. Setelah Hasan pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu dan Khairullah mondok di pesantren, Jannatul Ma’wa juga tidak ingin kalah melanjutkan sekolah ke Al-Azhar Kairo.

SELESAI



 
SAYAP-SAYAP KECIL SANG BIDADARI

Halimah adalah gadis cantik yang rajin dan pintar. Sejak kecil dia sudah yatim piatu. Walaupun dia tidak mempunyai orang tua tapi dia tetap semangat untuk meraih prestasi dan tidak pernah merasa rendah diri. Bibinya berhasil mendidiknya menjadi gadis salehah dan murah hati. Banyak lelaki yang datang untuk melamar namun ditolaknya karena dia ingin mengejar mimpinya terlebih dahulu. Dia terkenal sebagai bintang kelas dan kutu buku di sekolahnya sehingga disayang banyak guru.
Saat ini Halimah duduk di kelas XII jurusan Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah 2 Kandangan. Detik-detik kelulusan sudah di ambang pintu. Masing-masing siswa sudah mulai menentukan pilihannya akan kemana setelah lulus nanti. Kalau Halimah masih bingung karena tidak mempunyai biaya. Tapi karena dukungan dan bantuan dari beberapa guru di sekolahnya sehingga ia termotivasi untuk kuliah.
Cuaca sangat panas. Halimah duduk di bawah pohon akasia dekat taman sekolah. Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Halimaaaah! Halimah! Halimah!” teriak seorang siswi sambil berlari-lari.
“Ada apa Yan?” kata Halimah sambil memandang wajah Yani yang terlihat berkeringat.
“Aku ada kabar gembira buat kamu.” kata Yani sambil mengusap keringat di wajahnya.
“Apa Yan?” jawab Halimah dengan penasaran.
“Selamat Mah! Kamu diterima di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan berhasil mendapatkan beasiswa.” kata Yani sambil tersenyum.
“Haaaah! Darimana kamu dapat kabar ini?” Halimah seolah-olah tidak percaya.
“Tadi Bapak Hery yang memberitahuku.” kata Yani meyakinkan.
“Iya sekarang aku percaya. Terima kasih. Semua ini kan tidak terlepas dari bantuan guru-guru juga.” balas Halimah dengan wajah ceria.
“Iya sama-sama.” jawab Yani singkat.
Langit kelam kelabu. Saatnya Halimah harus berhijrah menimba ilmu. Halimah merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarga dan akan meninggalkan kampung tercintanya. Hari ini keberangkatannya ke kota Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikan. Dari kecil dia memang sudah bercita-cita ingin menjadi guru dan ingin membangun kampungnya supaya maju seperti di kota. Suasana berubah mengharukan dan Halimah mulai meneteskan air mata. Dia merasa tak sanggup untuk meninggalkan bibinya yang sedang sakit-sakitan.
“ Bibi, jaga diri baik-baik dan jangan lupa minum obatnya.” kata Halimah sambil menyerahkan obat.
“Iya Nak, kamu juga jaga diri baik-baik, jangan lupa salat lima waktu, dan kami disini menunggu kesuksesanmu.” jawab bibi.
“Iya Bi, Bibi jangan hawatir. Aku akan selalu ingat pesan Bibi. Mohon doa restu Bi.” Halimah meyakinkan bibinya.
“Iya, bibi pasti mendoakanmu Nak.” jawab bibi sambil mengantarkan Halimah ke luar rumah.
“Assalamualaikum.” kata Halimah dengan nada sedih.
“Waalaikumsalam. Hati-hati Nak di jalan.” jawab bibi sambil melepaskan kepergian Halimah.
Halimah melangkah meninggalkan rumah tercintanya menuju terminal. Langkah dengan gontai, langkah dengan harapan memetik bintang di langit dan membawa pulang mentari.
“Ya Allah, kulangkahkan kaki ini dengan menyebut nama-Mu. Aku akan menunutut ilmu ikhlas karena-Mu. Aku berlindung kepada-Mu ya Ilahi.” Halimah memanjatkan doa sebelum beranjak naik taksi.
Di sepanjang jalan Halimah selalu terbayang-bayang bagaimana kehidupan di kota yang nantinya akan menjadi tempat tinggalnya. Perasaan takut dan gelisah mulai menggerogotinya. Isu-isu yang pernah di dengarnya tentang kehidupan kota yang mengancam membuatnya berfikir negatif. Hanya berdoa dan terus berdoa yang ia lakukan agar diselamatkan dari kejamnya kehidupan di kota. Perjalanan panjang ini membuatnya sampai ketiduran. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang membangunkannya.
“Nak, kamu sudah sampai.” kata laki-laki yang ternyata adalah sopir taksi.
“Iya Pak. Terima kasih sudah membangunkan. Oh ya, berapa ongkosnya?” kata Halimah dengan muka kusut karena bekas ketiduran.
“Sama-sama Nak. Kamu tadi darimana?” laki-laki itu kembali bertanya.
“Aku dari Kandangan.” jawab Halimah.
“Empat puluh lima ribu Nak.” kata laki-laki itu sambil menggaruk kepala.
“Iya Pak, ini ongkosnya. Terima kasih.” kata Halimah sambil menyerahkan uang empat puluh lima ribu.
Halimah sampai pada tempat tujuan. Disini dia memulai hidup barunya. Sebisa mungkin dia beradaptasi dengan lingkungan baru, keluarga baru, teman baru, dan suasana baru. Namun, karena Halimah memang anak yang senang bergaul satu minggu saja dia sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Mentari bersinar di pagi hari. Pagi-pagi sekali Halimah sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dia sangat bersemangat. Diambilnya tas ransel yang berwarna merah muda. Dia memang memyukai warna merah muda. Bahkan kadang-kadang dia memakai pakaian serba merah muda dari kerudung, baju, sandal, dan aksesoris lainnya. Berangkatlah ia menuju kampus. Di jalan dia melihat pengemis tua yang sedang meminta-minta. Ia teringat kembali dengan bibinya di kampung yang juga sudah tua.
“Nak, minta sedekahnya. Mudah-mudahan kamu sukses.” kata pengemis sambil mengulurkan celengan.
“Amin. Ini Bu.” Halimah sambil menyerahkan uang seribu rupiah.
Perasaan Halimah kembali tidak karuan.
“Semoga bibi baik-baik saja.” kata Halimah dalam hati sambil berusaha menenangkan diri.
Hari pertama di kampus. Tak pernah terbayangkan olehnya manusia sebanyak ini. Berbagai suku ada disini. Ada yang berasal dari Hulu Sungai, Kelua, Kalimantan Timur, Pangkalan Bun, dan berbagai daerah lainnya. Rupa dan bahasanya juga beragam. Merekalah yang akan menjadi teman-teman seperjuangan meraih mimpi-mimpinya. Halimah duduk termangu-mangu melihat manusia yang lalu lalang tidak habis-habisnya. Kemudian ada perempuan berbadan tinggi yang mempunyai lesung pipit mendekatinya.
“Kamu berasal darimana?” tanya perempuan itu sok akrab.
“Aku dari Kandangan. Kalau kamu?” jawab Halimah juga sok kenal.
“Aku dari Rantau.” kata perempuan berbadan tinggi itu.
“Berarti dekat saja dari Kandangan. Kapan-kapan kalau pulang kampung kita bisa bersama-sama, kan searah saja.” Halimah sambil melemparkan senyumnya.
“Bisa jadi. Oh iya, dari tadi kita mengobrol tapi belum berkenalan. Perkenalkan namaku Naila.” kata perempuan berbadan tinggi itu yang ternyata bernama Naila.
“Namaku Halimah, bisa dipanggil Imah” sambil mengulurkan tangannya ingin berjabatan.
“Iya, salam kenal.” Naila juga menjabat tangan Halimah.
“Dimana kos kamu?” kata Halimah penasaran.
“Di Cendana 2A dekat toko Ani.” jawab Naila dengan singkat.
“Kebetulan aku juga kos di Cenadana 2A.” kata Halimah dengan perasaan yakin.
“Iya, aku mau kesana dulu.” Naila pergi meninggalkan Halimah.
Perkenalan singkat ini mengandung makna tersendiri bagi Halimah. Mungkin karena Naila adalah orang pertama yang dikenalnya di kampus. Semakin lama Halimah berteman dengan Naila maka semakin tambah akrablah mereka. Apalagi ketika pergi dan pulang kuliah selalu bersama karena kos mereka berdekatan, ditambah lagi jurusan yang sama sehingga bisa saling membantu ketika mengerjakan tugas.
Jadwal yang padat membuat Halimah mulai lesu. Kuliah saja dari hari senin sampai jumat. Waktu libur cuma hari sabtu dan minggu. Waktu libur juga di gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah sehingga kurang cukup untuk istirahat. Terasa sangat berbeda dengan masa-masa SMA dulu. Dulu bisa santai dan istirahat sepuasnya, makan enak bersama keluarga, dan tugas tidak sebanyak sekarang. Halimah mulai merasakan suka duka jadi mahasiswa apalagi ketika uang sudah habis dan beasiswanya belum juga cair. Sampai makan nasi pakai garam juga pernah ia rasakan. Namun, dari sini dia belajar memaknai arti hidup. Hidup itu tidak instan, perlu usaha dan doa.
“Ya Allah. Hamba yakin setiap keptusan-Mu adalah yang terbaik bagi-Mu. Ikhlaskanlah hati ini menerima keputusan-Mu. Hamba berlindung kepada-Mu ya Rabb.” Halimah berdoa.
Hari demi hari dijalaninya. Suka duka telah dilewatinya. Tidak terasa dia sudah mencapai semester akhir. Satu minggu lagi dia akan wisuda dan meraih gelar sarjana. Dia merasa bahagia karena setengah dari impiannya sudah tercapai.
Tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Hari yang paling bersejarah selama hidupnya. Ribuan mahasiswa berkumpul di Gedung Sultan Suriyansyah dengan memakai toga dan membawa keluarga masing-masing. Wajah berseri-seri sangat tampak di muka para mahasiswa. Halimah juga tak kalah bahagianya karena ia lulus cuma dengan waktu tiga setengah tahun dan comlaude.
“Selamat!” kata Nailah sambil mendekati Halimah.
“Terima kasih Nai. Jangan lupakan aku kalau kamu sukses nanti.” jawab Halimah.
“Pasti! Kita tetap sahabat selamanya.” Nailah meyakinkan dan sambil tersenyum manis sehingga Nampak terlihat lesung pipitnya.
Kini saatnya ia harus kembali ke kampung halamannya. Siap meninggalkan kampus tempat ia menimba ilmu dan meraih prestasi. Rasa tak sanggup untuk meninggalkan kenangan indah bersama teman-teman. Apalah daya, ibarat pepatah mengatakan “Sejauh-jauh burung terbang dan akhirnya kembali kesarangnya juga.” Begitu juga dengan Halimah yang berasal dari kampung harus kembali ke kampung pula. Namun, kepulangan Halimah tidak dengan tangan kosong, ia pulang membawa gelar sarjana, dan ilmu  bermanfaat yang nantinya akan diterapkan di kampungnya. Ia telah berhasil mewujudkan keinginan bibinya sehingga ia makin disayang dan dibangga-banggakan keluarganya. Bahkan banyak sepupu-sepupunya yang iri dengan kesuksesannya. Walaupun banyak yang menyanjung tapi tidak menggoyahkan keimanannya. Ia sadar bahwa roda pasti akan berputar. Mungkin saat ini ia berada di atas dan nanti mungkin berada di bawah. Jadi, hal seperti ini tidak membuatnya menyombongkan diri.
“Ya Allah yang maha pengasih. Tiada daya upaya kecuali kekuatan-Mu. Nikmat-Mu begitu banyak sampai aku tidak bisa menghitungnya. Engkau selalu mengabulkan keinginanku. Terima kasih ya Allah. Bimbinglah aku ke jalan-Mu, yaitu jalan orang-orang yang Engkau ridhai. Aku berlindung kepada-Mu ya Rabb.” Halimah berdoa sambil meneteskan air mata karena sangat bahagia.
Satu tahun setelah lulus kuliah Halimah menjadi PNS. Lebih berbahagianya lagi ketika melihat pengumuman bahwa ia di tempatkan di kampungnya. Dengan dia mengajar di kampungnya sendiri maka semakin mudahlah Halimah untuk meningkatkan mutu pendidikan di kampungnya. Hal ini juga memudahkannya untuk membangun kampungnya agar maju seperti di kota-kota. Terwujudlah sudah impiannya sejak kecil yang berkeinginan memajukan kampungnya.

SELESAI

 

KUMPUTNYA CINTA DIAMBANG TEMAN

Hujan gerimis membasahi dedaunan. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang sehingga membuat Erma terhenti dari perjalanan. Dari kejauhan terlihat sebuah pondok di balik pepohonan yang rindang. Erma mampir sebentar. Dia berjalan mendekati pondok. Dia terkejut ketika melihat ada sesosok perempuan yang duduk di pondok itu.  Perempuan itu ternyata adalah Azizah temannya sendiri. Dia duduk mendekati Azizah. Mereka bercerita masalah perasaan pada saat itu. Betapa terkejutnya Erma ketika mengetahui bahwa temannya sendiri ternyata mencintai orang yang juga dia cintai. Dia berusaha untuk menutupinya. Tidak mungkin dia menyakiti temannya hanya karena laki-laki.

“Aku sudah terlanjur terpuruk dalam sebuah lembah cinta yang nista. Apa boleh buat?  Ingin aku berangan-angan, namun aku ditutupi angan-anganku. Ingin aku bercita-cita, namun apalah artinya sebuah cita-citaku. Ingin aku berharap, namun harapanku hancur begitu saja. Ini adalah puing-puing kehancuran dalam hatiku, membekas dalam jiwaku. Aku tidak bisa melupakannya, begitu berat aku melupakannya walaupun aku sadar  bahwa aku tidak sanggup memilikinya. Gagal harapanku. Aku tidak bisa mendustai diriku sendiri, sekalipun orang itu membenci aku, sekalipun dia sangat memurkai aku, namun aku tetap untuk menyayanginya. Aku tidak mengerti apakah ini artinya sebuah cinta yag terlahir bagiku.” kata Erma dalam hati seakan tercabik-cabik.

Sayid adalah seorang pemuda tampan yang berkepribadian islami. Sekarang ia sedang sekolah di Pondok Pesantren Al-Muradiyah Negara. Ketampanan dan akhlaqnya itulah yang meluluhkan hati para wanita.

Hujan mulai reda. Mereka pulang menuju rumah masing-masing. Erma melangkah meninggalkan Azizah. Langkah dengan gontai, langkah dengan hampa yang seakan-akan hilang sebuah harapan. Pandangannya jauh seakan-akan dunia tidak mampu merangkul dia. Dia pandang burung-burung yang sedang terbang, berangan-angan ingin menjadi burung. Dia pandang bulan dikala malam, dia pun mengimpikan bagaimana hidup jadi bulan begitu tenangnya tanpa ada penderitaan. Hidup walaupun sendiri tanpa ada teman namun tak ada yang mengharui lidah dan perasaan, cukup memandang bintang-bintang yang bertaburan dimuka langit yang memancarkan sedikit cahaya di muka bumi namun menjadi sebuah keindahan alam. Erma pun berkata dalam hati, “seindah apapun kau bintang yang menghiasi langit, namun hatiku tertutup begitu mendaris oleh seseorang yang kucintai yang pernah melukai diriku. Kemana harus membawa diriku. Disana tidak bisa membahagiakanku. Kesana indah bagi orang lain namun suram bagi diriku. Walaupun orang lain terbuka, namun hatiku sudah tertutup oleh kesuraman dan kasih sayang tak perlu kudapatkan.”

Terus termangu-mangu Erma. Mau kesana salah mau kesini salah. Kita tengok Azizah juga begitu, duduk disana salah, duduk disini salah. Berdiri salah berjalan salah. Hatinya selalu berkata “kenapa jadi harus begini. Aku sudah berusaha ingin membahgiakan orang lain, ternyata kehadiranku pengganggu dan pengacau bagi orang lain. Aku sudah bertekad kuat menjauh dari cinta orang lain, meletakkan kasih sayang dari orang lain menuju kedamaian, ternyata kesengsaraan bagi orang lain.”

Lalu kita tengok kembali Erma yang sedang berduka. Kadang-kadang di sudut rumah, kadang-kadang di tepi jalan, kadang-kadang di tempat kerja, selalu merenung membayangkan orang yang pernah menyelinap dalam hatinya, orang yang selalu hinggap dalam persaannya, yaitu Sayid. Selalu terbayang melihat seseorang, selalu membayangkan, mendengar suara seakan-akan suara dia, melihat lambaian seakan-akan lambaian tangannya. Begitulah orang yang jatuh cinta. Hati Erma berkata “adakah suatu jalan buatku yang memberikan harapan, keindahan, dan kecermelangan di belakang hari. Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan hambamu ini yang terus sengsara di dalam percintaan. Ya Tuhan, siapa sebenarnya diriku ini. Haruskah aku melangkah mengiringi bayang-bayang yang tidak menentu, haruskah aku mengejar bayang-bayang patamorgana belaka, haruskah aku berharap kepada awan putih yang segera memberikan hujan air sejuk dalam tubuhku, haruskah aku mengharapkan kepada setitik embun dikala mentari di tengah hari. Oh, mengingat sebuah laut, batu karang pun di hantam badai, hatiku hancur berkeping, bagaimana menyatukan perasaanku lagi, sanggupkah aku memberikan kasih sayang kepada orang lain, sanggupkah aku mengenal orang lain setelah ini. Aku sudah mencoba memandang orang lain dengan jiwa dan rasa, aku sudah mengangan-angankan orang lain lebih tampan dari dia, aku sudah mencoba mengenal orang lain yang lebih baik dari dia, aku sudah mencoba memandang mengenali alam semesta begitu indahnya, namun tidak bisa merubah detak jantungku yang selalu menyebut nama dia.”

Azizah berdo’a, “Ya Tuhan ya Karim, hamba telah melakukan kesalahan yang tak pernah disukai, hamba harus bagaimana, apakah hamba melepaskan segalanya, apakah hamba harus meninggalkan semuanya, apakah hamba harus bercerai dari mereka, kalau itu hamba lakukan semuanya malah mengundang bencana. Ya Tuhan, hamba juga punya rasa, hamba juga punya cinta, hamba juga menggapai asa, namun semua rasa dan perasaan ini sangat pedih. Perasaan suka memang wajar, tetapi menimbulkan tangisan dan isak. Satu sisi adalah temanku, satu sisi laki-laki tersebut menggodaku. Haruskah aku berada di tengah-tengah, bagaikan berada di tengah-tengah dua jalur, jalan mana yag harus kutembus, seakan-akan aku berada di atas awan yang akan melangkah turun ke bumi, bumi mana yang harus kupijak. Ya Tuhan, ibarat nelayan yag berada di tengah lautan, arah kemudi yag kudapatkan dan arah angin yag kuterima, harus yang mana yang kumainkan, sudah kuarahkan arah kemudi namun arahnya tidak menentu, haruskah aku mengharap angin dari langit namun arahnya pun belum tentu mengantarkanku ke tempat pantai bahagia. Sikapku sekarang mengantara. Letak dan kepribadian ku juga salah, aku membawa diri serba tidak cocok, apakah ada suatu jalan yang engkau beri saat ini. Untuk saat ini aku termasuk dalam sebuah perangkap yang sangat sulit aku lepaskan. Aku selalu mencari jalan keluar namun pintu sudah tertutup. Aku hanya berharap kepadaMu ya Tuhan, aku pasrah dengan kejadian ini, aku ikhlaskan segalanya kepadaMu.”

Tiba-tiba setelah berduka, timbul dalam hati Azizah aku cukup minta ma’af nanti. Timbul juga dalam hati Erma, tidak ada lagi yang aku lakukan selain aku minta ma’af.

Tanpa di sengaja sepulang kuliah mereka berdua bertemu. Mereka berdua saling bermaafan dan berjanji akan menjadi sahabat. Kisah percintaan yang terjadi antara mereka pun berakhir dengan ikatan persahabatan.

Itulah segelintir kisah kenangan indah antara dua bersahabat.

                               


Aku dan Kakakku
Sehari setelah lebaran  aku berencana akan pergi ke Banjarmasin. Sebelum berangkat aku ingin membeli  handphone terlebih dahulu. Ketika siap-siap berangkat tiba-tiba aku mendapat SMS dari kaka tersayangku. Dia menyatakan bahwa akan berkunjung ke rumah untuk silaturrahmi. Betapa terkejutnya aku karena aku tidak menyangka dia mau berkunjung dengan secepat kilat. Kemudian dengan secepat kilat juga aku membatalkan membeli handpone dengan sepupuku.
            Hatiku dag dig dug bercampur gelisah karena ingin pulang ke Banjarmasin dan sambil menunggu kedatangannya juga sambil mempersiapkan segala sesuatu. Aku menunggu di depan langgar Nurul Iman untuk menujukkan arah menuju ke rumahku. Beberapa menit menunggu muncullah dua orang sosok laki-laki yang gagah. Subhanallah.., ternyata dia kakaku dengan pamannya. Kutunjukkan arah menuju rumahku dan aku mampir sebentar ke toko membeli makanan ringan.
            Sesampainya di rumah kakakku malu-malu tidak berkata-kata sepatah pun. Aku pun juga malu karena pertama kali bertemu. Empat tahun setengah lamanya aku berteman dengannya baru ini aku bisa memandang wajah aslinya. Apabila dia memanadangku aku menunduk dan apabila aku memandangnya dia juga menunduk. Inikah yang dinamakan pandangan pertama. Hatiku berbunga-bunga bagaikan di taman surga.
            Kurang lebih sepuluh menit kakakku berpamitan ingin pulang. Aku pun mengantarkannya sampai teras. Ketika dia naik kendaraan dia tersenyum manis memandangku, aku pun sebaliknya membalas senyumnya. Senyumnya itulah yang sampai ini tidak bisa kulupakan.
Aku memang sangat menyayanginya, karena menurutku dia itu selalu jujur dan terbuka denganku dan aku merasa nyaman dengannya. Dialah yang selalu memberiku semangat sejak aku Madrasah Aliyah sampai aku kuliah sekarang. Betapa perhatiannya dia kepadaku apalagi masalah menuntut ilmu, dia terus membimbingku agar aku jadi wanita salehah. Aku selalu menurut apa yang dikatakannya, aku tidak pernah berani menentangnya, bahkan aku sangat takut kalau sampai membuat hatinya tidak nyaman.
Kata-katanya yang selalu kuingat adalah “bujur-bujur sekolah,” karena dia menginnginkan aku sukses. Aku pun ingin dia sukses. Yang kuharapkan adalah agar dia benar-benar fokus menghapal al-qur’an, jangan sampai hapalannya rusak dikarenakan masalah dengan perempuan apalagi aku. Kami selalu saling mengingatkan.
Seandainya aku bisa memilikinya akan terasa sudah surga dunia. Namun, hal ini tidak akan mungkin terjadi, karena aku sudah menjadi saudara angkatnya. Walaupun hanya sebatas saudara aku sudah merasa memiliki sebagian hatinya. Aku akan tetap menyayanginya walaupun dia menjadi milik orang lain. Kami akan tetap menjalin silaturrahmi sampai mati. Indahnya persaudaraan diikat dengan tali silaturrahmi dan iman.
Semoga persaudaraan kita diridhai Allah dan semoga selalu dalam rahmat-Nya. Amiin Yarabbal Aalamiin. :-)

           

PENYESALAN KARENA OLAH RASA
Dosenku masuk ruangan tidak seperti biasanya. Aku gugup dan teman-teman pun diam seperti mengheningkan cipta. Dosenku mengumbar amarahnya, suasana kelas hening seketika. Tiba-tiba saja kami disuruh merenung dengan memejamkan mata. Kami diperintahkan untuk merenungi kegiatan apa saja yang di lakukan dari bangun tidur sampai masuk dan duduk di dalam kelas, merenungi hal-hal yang yang menyenangkan dan menyedihkan, merenungi apa yang  di harapkan orang tua, merenungi kesalahan-kesalahan, dan di suruh berjanji dengan diri sendiri akan memperbaiki semuanya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
            Aku menyesali perbuatan-perbuatanku selama ini sudah mengecewakan bibiku, bahkan juga guruku. Satu tahun setengah aku kuliah belum juga ada perubahan. Aku disini hanya menghabiskan uang dan menyiakan-nyiakan waktu. Waktunya untuk bebas, melakukan apa saja yang diinginkan tanpa ada yang melarang. Disini aku bisa telponan sepuasnya, berbelanja sebanyak-banyaknya, bermalas-malasan seenaknya bahkan waktu seharian hanya di gunakan untuk uring-uringan. Tidak seharusnya aku melakukan hal yang membuatku bodoh. Padahal bibiku mengharapkan aku kuliah untuk menuntut ilmu dan menjadi anak yang berguna. Ternyata orang yang diharap-harpkan dan dibiayai kuliah menyia-nyiakan kesempatan ini dan bahkan menyalah gunakannya.
            Aku tidak tahan membendung air mata menyesali perbuatanku. Betapa bodohnya aku. Seandainya bibiku mengetahui keberadaanku disini, dia pasti sangat marah. Aku juga merasa malu kepada tetangga-tetanggaku yang memandang aku pintar karena berhasil mendapatkan beasiswa. Aku memang bisa memndapatkan nilai yang lumayan, tapi itu hanya nilai belaka. Nilai memang mudah didapatkan, tapi ilmunya yang sulit untuk dimengerti. Apakah ini karena  aku belum memiliki niat kuliah ataukah karena memang aku ini pasrah, aku tidak mengetahuinya.
            Menurutku kuliah tidak ada gunanya awalnya, tapi sekarang sudah berubah. Dahulu memang aku ingin sekolah pondok pesantren karena aku memyukai pelajaran tentang ilmu agama. Tetapi karena masalah dana dan dorongan keluarga sehingga aku harus kuliah. Saat ini mungkin aku belum merasakan manfaatnya, tapi aku yakin ilmu yang dipelajari pasti berguna. Walaupun yang kupelajari hanya ilmu dunia, tapi inilah jalan yang harus kutempuh. Dengan ilmu dunia bisa saja digunakan untuk kepentingan akhirat. 
            Saatnya aku harus bagkit dari kegelapan untuk meraih masa depan yang cemerlang. Sejak aku masih sekolah memang bercita-cita ingin menjadi guru, mustahil kalau aku seperti ini saja tidak ada perubahan. Aku berjanji pada diriku akan bersungguh-sungguh belajar dan menggunakan waktu sebaik-baiknya. Kesempatan kali ini tidak boleh lagi diabaikan. Dari olah rasa ini membuatku sangat menyesal dan ingin kembali bangkit. Dimulai dari sinilah membuatku semangat belajar, mulai berfikir cemerlang dan membagi waktu agar bermanfaaat. Aku ingin menjadi kebangaan keluargaku dan guru-guruku. Aku ingin melihat orang tuaku, bibiku, guruku dan orang-orang di sekitarku bahagia. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain melihat orang-orang di sekitarku bahagia. Dengan tanganku sendiri akan kulakukan semua yang masih bisa kulakukan.

 
Seekor Ikan Kecil ( Pepuyu Begincu )
Di sebuah sungai hiduplah sekumpulan ikan-ikan kecil. Yang mana ikan-ikan itu pandai bersolek, menghiasi diri seakan-akan seperti perlombaan. Semua itu dikarenakan pergaulan-pergaulan yang bercampur aduk. Hingga tanpa disadari mereka melakukan hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Mereka menghiasi diri dengan cara yang salah. Seolah-olah sengaja memamerkan keelokan ekor-ekor mereka untuk menarik perhataian ikan-ikan lainnya. Tidak ada rasa malu, bahkan itu dibilang mereka kehidupan, kehidupan yang bebas dengan warna-warni mereka.
           Di antara sekumpulan ikan itu ada seekor ikan kecil yang masih lugu. Sebagai ikan yang masih lugu tentu belum mengetahui dalamnya sungai tersebut. Sekumpulan ikan itu mengajaknya ikut bermain dan bernyanyi bersama. Karena bujuk rayu temannya yang menjanjikan kesenangan dan impian jadi kenyataan, tentu saja menjadikan pemikiran dan rasa penasaran bagi ikan kecil itu. Kemudian rasa ingin mencoba pun timbul dibenaknya.
Akhirnya ikutlah seekor ikan kecil itu bersama mereka. Dengan semangat mereka menelusuri kedalaman sungai dan merasa penuh penasaran seperti apakah tempat itu. Sampailah mereka disebuah tempat yang tersembunyi, dimana tempat itu dikenal sebagai tempat untuk bersenang-senang. Masuklah mereka ke sebuah ruangan, yang mana ruangan itu penuh perhiasan yang gemerlap dan kelap-kelip laksana butiran mutiara. Disisi-sisi  mereka tersedia bermacam-macam jenis minuman yang memabukkan. Mereka tergiur untuk menikmati minum-minuman yang ada disisi-sisi mereka. Kemudian minumlah mereka dengan bersenang-senang dan berfoya-foya. Sehingga dengan minuman tersebut mengakibatkan hilangnya kesadaran dan membuat mereka lupa daratan. Tidak lagi mengenal batas-batas norma kehidupan. Mereka berpesta pora menari-nari bersama pasangan mereka yang tidak selayakanya mereka lakukan. Waktu terus berjalan, air sungai terus mengalir, dan waktupun terlupakan begitu saja dengan sia-sia.

SALAH NAIK TAKSI
Kisahku niti hanyar haja kajadiannya, puatan sapuluh hari nang lalu. Aku ti cagarnya samalam kada handak umpat ma-ambil kuliah samistir pindik, jadi bulik kampung-ai handak puasa di kampung halaman. Imbah bulik ti bakukumpulan-ai lawan kaluarga. Pas itu ti ada sapupuku, angahku, lawan acilku. Bakisah-ai aku masalah kuliah di Banjar. Bapandir-bapandir lalu takisah agin aku sabanarnya ada pilihan atau kasampatan kuliah samistir pindik pas bulan puasa niti. Sakalinya sapupuku ti manyuruh umpat lawan angahku hakun mambayariakan. Hakun-ai aku nang ngaran disuruh kaluarga ti.
Kaisukan harinya tulak-ai aku ka Banjarmasin. Aku ti sudah bajanji lawan paman Iyus, supir taksi nang sudah lawas langganan masi bulang bulik Banjar. Lawas banar mahadangi sampai panat duduk. Sakalinya pamannya manalipun mamadahakan sidin parak sampai sudah.
Badiri-ai aku handak basiap-siap, sakalinya pas taksi datang.
“Ikam nang manalipun aku kalu?” ujar supir taksi turun mandatangi aku.
“Inggih.” jarku manyahuti. Padahal di hati batanya-tanya “Kanapa paman taksinya lain nih? Palingan baganti kalu pamannya, mun muturnya asa iya haja pang.”
Babuat-ai aku ka dalam taksi sambil mambuat barang-barang jua.
“Mana, mama kam?” jar supir taksi.
“Aku surangan haja, Paman-ai! Ni mutur paman Iyus, kalu?” jarku batakun.
“Lain. Nah, Ikam salah taksi.” jar supirnya pulang.
Uma-ai aku supan banar salah naik taksi tutih. Bagagas-ai aku turun kasupanan. Sakalinya taksi paman Iyus ti di balakang datang jua taimbai. Babuat-ai aku ka dalam taksi sidin.
“Kanapa ikam bapindah taksi?” jar lalakian nang duduk dihigaku.
“Tadi tasalah taksi Pa-ai. Paman taksi nang tadi mangira aku niti urang nang bajanji minta hadangi sidin karana kabatulan tampatnya sama. Sadangkan aku mangira pamannya baganti lawan pas banar tutih pamannya manakuni ikam kalu nang  manalipun? jar sidin, pas banar aku hanyar batalipunan jua lawan paman Iyus.” aku manjalasakan sambil kasupanan.
TAMAT

2 komentar:

  1. sungguh produktif,. ini blog yg q bikinkan semalam kh????

    BalasHapus
  2. Ali, maaf baru balas. Baru tebuka lagi.
    Iya ini buatanmu kemarin. Tapi tidak ada lagi karya yang bertambah. Hoho

    BalasHapus