JODOH
YANG TERHALANG ILMU
Di desa Gambir tinggal seorang pemuda
yang sederhana dan juga tidak begitu tampan, yaitu Khairullah. Walaupun tidak
begitu tampan, tapi dia taat beragama. Dia tinggal bersama ibunya. Tidak jauh
dari desa Gambir tersebut tinggal seorang gadis yang bernama Jannatul Ma’wa,
selain orangnya cantik dia juga salehah. Mereka berteman akrab.
Suatu hari Khairullah memperkenalkan
temannya kepada Jannatul Ma’wa, yaitu Hasan yang juga tidak jauh dari rumahnya.
Dia rajin menuntut ilmu dan rajin bekerja. Kemudian Jannatul Ma’wa dan Hasan
saling bertukar nomor HP. Mereka sering smsan memabahas masalah agama. Sehingga
Hasan penasaran dengan Jannatul Ma’wa.
Sampai pada suatu hari Hasan bertanya
kepada Jannatul Ma’wa masalah syariat. Pertanyaan yang dulunya sulit bagi Hasan
untuk menjawabnya. Ternyata Jannatul Ma’wa
bisa menjawabnya, sehingga membuat hati Hasan bergejolak dan semakin kagum.
Sore hari Khairullah berkunjung ke rumah
Hasan. Khairullah menanyakan tentang Jannatul Ma’wa. Kemudian Hasan
menceritakan bagaimana perkenalannya dengan Jannatul Ma’wa selama ini. Khairullah
terkejut mendengar cerita Hasan yang begitu cepat perkenalannya. Hasan bingung
melihat sikap Khairullah berubah begitu saja, keadaannya murung dan menunduk.
“Ada apa dengan kamu? Apakah perkataanku
salah?” tanya Hasan kepada Khairullah.
“Tidak apa-apa.” ucap Khairullah
singkat.
Khairullah berusaha memendam
perasaannya. Awalnya Khairullah tidak mengetahui bahwa Hasan menyukai Jannatul
Ma’wa. Dia mengira mereka berdua cuma
berteman biasa. Khairullah berniat untuk membantu Hasan walaupun sedikit sakit
hati karena harus merelakan orang yang diidam-idamkannya.
“San, apakah kamu mencintai Jannatul
Ma’wa?” ucap Khairullah.
“Iya, aku bersedia untuk menjadi
pendampingnya kalau dia mau.” jawab Hasan malu-malu.
“Bagaimana kalau nanti aku yang
menyampaikannya kepada Jannatul Ma’wa tentang perasaan kamu?” tanya Khairullah
lagi.
“Iya, terima kasih Rul. Kau memang
temanku yang terbaik.” kata hasan memuji Khairullah.
“Sama-sama San.” balas Khairullah dengan
senyuman.
Tak terasa hari mulai senja, Khairullah
berpamitan ingin pulang.
“San,
aku mau pulang. Sudah lama percakapan kita.” kata Khairullah.
“Iya Rul.” kata Hasan sambil
mengantarkan Khairullah ke depan pintu.
“Assalamualaikum.” kata Khairullah.
“Waalaikumsalam.”
balas Hasan sambil melambaikan tangan.
Hasan
meninggalkan Khairullah. Langkah dengan penuh harapan Jannatul Ma’wa mau
dengannya. Hari-harinya dipenuhi bayangan Jannatul Ma’wa. Setiap selesai salat
dia tidak pernah lupa berdoa memohon agar dijodohkan dengan Jannatul Ma’wa.
Khairullah
berfikir bagaimana caranya untuk menyampaikan perasaan Hasan kepada Jannatul
Ma’wa sementara ia juga sudah lama mengidam-idamkan gadis itu. Bersabar adalah
hal yang paling utama bagi Khairullah karena dia tidak ingin membuat Hasan
kecewa. Tanpa fikir panjang ia mengambil handphone
dan menulis SMS untuk menyampaikan amanat dari Hasan kepada Jannatul Ma’wa.
Beberapa menit Khairullah gelisah menunggu jawaban Jannatul Ma’wa. “Ting-ting
dibaca dong smsnya.” handphonenya berbunyi pertanda ada sms masuk. Dengan cepat
Khairullah mengambil handphonenya dan berharap itu adalah jawaban Jannatul
Ma’wa. Ternyata sesuai dengan harapan. Jannatul Ma’wa menyuruh agar berhadapan
langsung kalau niatnya itu benar.
Keesokan harinya
Khairullah menyampaikan kata-kata Jannatul Ma’wa kepada Hasan.
“San, aku sudah
menyampaikan tentang perasaanmu kepada Jannatul Ma’wa sesuai janjiku kemarin.
Jannatul Ma’wa menyuruhmu berhadapan langsung kalau niatmu itu benar.” kata
Khairullah percaya diri.
“Iya Rul, terima
kasih atas informasinya dan sudah membantuku.” kata Hasan malu.
Hasan
memberanikan diri untuk menyampaikan masalah ini kepada orang tuanya. Orang
tuanya minta waktu untuk memikirkannya dengan matang. Hasan menyetujuinya. Sementara
Hasan menunggu keputusan orang tuanya, ia membaca al-quran untuk mengurangi kegelisahan
hatinya. Selesai membaca al-quran ibunya
mengajak bicara.
“Nak, kamu sudah
yakin dengan pilihanmu?” tanya ibunya.
“Iya Bu, aku
sudah memikirkannya dengan matang.” jawab Hasan dengan yakin.
“Kalau begitu
besok kita kerumahnya. Ibu berharap kamu tidak salah pilih karena ini untuk
selamanya.” kata ibunya.
“Iya Bu, insya
Allah.” jawab Hasan dengan gembira.
Hasan bangun
pagi-pagi karena tidak sabar lagi ingin melamar Jannatul Ma’wa. Orang tuanya
juga bersiap-siap untuk silaturrahmi ke rumah calon menantu. Jarum jam
menunjukkan angka 09.00 WITA. Berangkatlah Hasan dan orang tuanya menuju rumah
Jannatul Ma’wa. Sesampainya di rumah Jannatul Ma’wa mereka disambut dengan
ramah tamah. Kemudian setelah lama berbincang-bincang orang tua Hasan
menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar gadis salehah, yaitu Jannatul
Ma’wa putri ustad Abdullah. Terjadilah dialog pelamaran. Namun orang tua
Jannatul Ma’wa menyerahkan keputusan kepada putrinya. Jannatul Ma’wa mengajukan
satu syarat, yaitu kalau bisa menjawab pertanyaannya maka ia boleh menjadi
pendamping hidupnya. Pertanyaannya ada tiga, yaitu: (1) Kalau kita kawin nanti
apakah kita bahagia?; (2) Kamu alim dan aku alim, apakah pasti taat kepada
Allah?; dan (3) Kamu taat dan aku taat, apakah pasti akan masuk surga? Hasan
terkejut dan tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa. Dia tidak menyangka
kejadiannya akan seperti ini. Hasan dan orang tuanya pulang dengan hampa.
Keesokan harinya
Hasan menceritakan kepada Khairullah bahwa lamarannya ditolak karena tidak bisa
menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa. Khairullah sangat terkejut mendengar cerita
Hasan. Kemudian Khairullah juga mencoba untuk melamar Jannatul Ma’wa. Ternyata hasilnya
nihil. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa walaupun
pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang telah dilemparkan kepada Hasan.
Beberapa hari
setelah lamarannya ditolak Hasan terlihat murung dan jarang keluar rumah. Hasan
merasa kurang dengan ilmu yang dimilikinya. Kemudian dia berniat sekolah lagi
ke Hadral Maut Mesir untuk lebih memperdalam ilmu agama. Demikian juga
Khairullah yang tidak bisa menjawab pertanyaan Jannatul Ma’wa merasa miskin
ilmu. Dia juga berniat untuk sekolah lagi ke Hadral Maut Yaman. Namun, dia tidak
bisa meninggalkan ibunya sendirian di rumah dan sedang sakit-sakitan sehingga
dia memilih untuk sekolah di kampung saja, yaitu pondok pesantren Minhajul
Abidin.
Tanpa disengaja sepulang dari pengajian
Jannatul Ma’wa bertemu dengan Khairullah dan Hasan. Suasana hening seketika.
“San, Khairullah, aku minta maaf.
Mungkin selama ini aku banyak berbuat salah dan mengganggu aktivitas kalian,
terlebih lagi perasaan kalian.” Jannatul Ma’wa memulai percakapan.
“Iya sama-sama, aku juga minta maaf.
Mungkin selama ini aku juga banyak salah. Aku besok akan berangkat ke Yaman
untuk menuntut ilmu. Jadi aku mohon doanya.” ucap Hasan.
“Jannah, sebelum kamu minta maaf sudah
aku maafkan.” kata Khairullah sambil tersenyum.
“Aku akan selalu mendoakanmu San.
Setelah kamu di Yaman nanti jangan lupakan kami ya. Kami disini merindukanmu.”
kata Jannatul Ma’wa tersenyum geli.
Ternyata hari ini adalah hari perpisahan
antara mereka bertiga. Setelah Hasan pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu dan Khairullah
mondok di pesantren, Jannatul Ma’wa juga tidak ingin kalah melanjutkan sekolah ke
Al-Azhar Kairo.
SELESAI
SAYAP-SAYAP
KECIL SANG BIDADARI
Halimah adalah gadis cantik yang rajin
dan pintar. Sejak kecil dia sudah yatim piatu. Walaupun dia tidak mempunyai
orang tua tapi dia tetap semangat untuk meraih prestasi dan tidak pernah merasa
rendah diri. Bibinya berhasil mendidiknya menjadi gadis salehah dan murah hati.
Banyak lelaki yang datang untuk melamar namun ditolaknya karena dia ingin
mengejar mimpinya terlebih dahulu. Dia terkenal sebagai bintang kelas dan kutu
buku di sekolahnya sehingga disayang banyak guru.
Saat ini Halimah duduk di kelas XII
jurusan Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah 2 Kandangan. Detik-detik kelulusan
sudah di ambang pintu. Masing-masing siswa sudah mulai menentukan pilihannya
akan kemana setelah lulus nanti. Kalau Halimah masih bingung karena tidak
mempunyai biaya. Tapi karena dukungan dan bantuan dari beberapa guru di
sekolahnya sehingga ia termotivasi untuk kuliah.
Cuaca sangat panas. Halimah duduk di
bawah pohon akasia dekat taman sekolah. Tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Halimaaaah! Halimah! Halimah!” teriak
seorang siswi sambil berlari-lari.
“Ada apa Yan?” kata Halimah sambil
memandang wajah Yani yang terlihat berkeringat.
“Aku ada kabar gembira buat kamu.” kata
Yani sambil mengusap keringat di wajahnya.
“Apa Yan?” jawab Halimah dengan
penasaran.
“Selamat Mah! Kamu diterima di perguruan
tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan berhasil mendapatkan
beasiswa.” kata Yani sambil tersenyum.
“Haaaah! Darimana kamu dapat kabar ini?”
Halimah seolah-olah tidak percaya.
“Tadi Bapak Hery yang memberitahuku.” kata
Yani meyakinkan.
“Iya sekarang aku percaya. Terima kasih.
Semua ini kan tidak terlepas dari bantuan guru-guru juga.” balas Halimah dengan
wajah ceria.
“Iya sama-sama.” jawab Yani singkat.
Langit kelam kelabu. Saatnya Halimah
harus berhijrah menimba ilmu. Halimah merasa sedih karena harus berpisah dengan
keluarga dan akan meninggalkan kampung tercintanya. Hari ini keberangkatannya
ke kota Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikan. Dari kecil dia memang sudah
bercita-cita ingin menjadi guru dan ingin membangun kampungnya supaya maju
seperti di kota. Suasana berubah mengharukan dan Halimah mulai meneteskan air
mata. Dia merasa tak sanggup untuk meninggalkan bibinya yang sedang
sakit-sakitan.
“ Bibi, jaga diri baik-baik dan jangan
lupa minum obatnya.” kata Halimah sambil menyerahkan obat.
“Iya Nak, kamu juga jaga diri baik-baik,
jangan lupa salat lima waktu, dan kami disini menunggu kesuksesanmu.” jawab
bibi.
“Iya Bi, Bibi jangan hawatir. Aku akan
selalu ingat pesan Bibi. Mohon doa restu Bi.” Halimah meyakinkan bibinya.
“Iya, bibi pasti mendoakanmu Nak.” jawab
bibi sambil mengantarkan Halimah ke luar rumah.
“Assalamualaikum.” kata Halimah dengan
nada sedih.
“Waalaikumsalam. Hati-hati Nak di jalan.”
jawab bibi sambil melepaskan kepergian Halimah.
Halimah melangkah meninggalkan rumah
tercintanya menuju terminal. Langkah dengan gontai, langkah dengan harapan
memetik bintang di langit dan membawa pulang mentari.
“Ya Allah, kulangkahkan kaki ini dengan
menyebut nama-Mu. Aku akan menunutut ilmu ikhlas karena-Mu. Aku berlindung
kepada-Mu ya Ilahi.” Halimah memanjatkan doa sebelum beranjak naik taksi.
Di sepanjang jalan Halimah selalu
terbayang-bayang bagaimana kehidupan di kota yang nantinya akan menjadi tempat
tinggalnya. Perasaan takut dan gelisah mulai menggerogotinya. Isu-isu yang
pernah di dengarnya tentang kehidupan kota yang mengancam membuatnya berfikir
negatif. Hanya berdoa dan terus berdoa yang ia lakukan agar diselamatkan dari
kejamnya kehidupan di kota. Perjalanan panjang ini membuatnya sampai ketiduran.
Tiba-tiba ada seorang lelaki yang membangunkannya.
“Nak, kamu sudah sampai.” kata laki-laki
yang ternyata adalah sopir taksi.
“Iya Pak. Terima kasih sudah
membangunkan. Oh ya, berapa ongkosnya?” kata Halimah dengan muka kusut karena
bekas ketiduran.
“Sama-sama Nak. Kamu tadi darimana?” laki-laki
itu kembali bertanya.
“Aku dari Kandangan.” jawab Halimah.
“Empat puluh lima ribu Nak.” kata
laki-laki itu sambil menggaruk kepala.
“Iya Pak, ini ongkosnya. Terima kasih.” kata
Halimah sambil menyerahkan uang empat puluh lima ribu.
Halimah sampai pada tempat tujuan.
Disini dia memulai hidup barunya. Sebisa mungkin dia beradaptasi dengan
lingkungan baru, keluarga baru, teman baru, dan suasana baru. Namun, karena
Halimah memang anak yang senang bergaul satu minggu saja dia sudah mampu beradaptasi
dengan lingkungannya.
Mentari bersinar di pagi hari. Pagi-pagi
sekali Halimah sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dia sangat
bersemangat. Diambilnya tas ransel yang berwarna merah muda. Dia memang
memyukai warna merah muda. Bahkan kadang-kadang dia memakai pakaian serba merah
muda dari kerudung, baju, sandal, dan aksesoris lainnya. Berangkatlah ia menuju
kampus. Di jalan dia melihat pengemis tua yang sedang meminta-minta. Ia
teringat kembali dengan bibinya di kampung yang juga sudah tua.
“Nak, minta sedekahnya. Mudah-mudahan
kamu sukses.” kata pengemis sambil mengulurkan celengan.
“Amin. Ini Bu.” Halimah sambil
menyerahkan uang seribu rupiah.
Perasaan Halimah kembali tidak karuan.
“Semoga bibi baik-baik saja.” kata
Halimah dalam hati sambil berusaha menenangkan diri.
Hari pertama di kampus. Tak pernah
terbayangkan olehnya manusia sebanyak ini. Berbagai suku ada disini. Ada yang
berasal dari Hulu Sungai, Kelua, Kalimantan Timur, Pangkalan Bun, dan berbagai
daerah lainnya. Rupa dan bahasanya juga beragam. Merekalah yang akan menjadi
teman-teman seperjuangan meraih mimpi-mimpinya. Halimah duduk termangu-mangu
melihat manusia yang lalu lalang tidak habis-habisnya. Kemudian ada perempuan berbadan
tinggi yang mempunyai lesung pipit mendekatinya.
“Kamu berasal darimana?” tanya perempuan
itu sok akrab.
“Aku dari Kandangan. Kalau kamu?” jawab
Halimah juga sok kenal.
“Aku dari Rantau.” kata perempuan
berbadan tinggi itu.
“Berarti dekat saja dari Kandangan.
Kapan-kapan kalau pulang kampung kita bisa bersama-sama, kan searah saja.”
Halimah sambil melemparkan senyumnya.
“Bisa jadi. Oh iya, dari tadi kita
mengobrol tapi belum berkenalan. Perkenalkan namaku Naila.” kata perempuan
berbadan tinggi itu yang ternyata bernama Naila.
“Namaku Halimah, bisa dipanggil Imah”
sambil mengulurkan tangannya ingin berjabatan.
“Iya, salam kenal.” Naila juga menjabat
tangan Halimah.
“Dimana kos kamu?” kata Halimah
penasaran.
“Di Cendana 2A dekat toko Ani.” jawab
Naila dengan singkat.
“Kebetulan aku juga kos di Cenadana 2A.”
kata Halimah dengan perasaan yakin.
“Iya, aku mau kesana dulu.” Naila pergi
meninggalkan Halimah.
Perkenalan singkat ini mengandung makna
tersendiri bagi Halimah. Mungkin karena Naila adalah orang pertama yang
dikenalnya di kampus. Semakin lama Halimah berteman dengan Naila maka semakin
tambah akrablah mereka. Apalagi ketika pergi dan pulang kuliah selalu bersama
karena kos mereka berdekatan, ditambah lagi jurusan yang sama sehingga bisa
saling membantu ketika mengerjakan tugas.
Jadwal yang padat membuat Halimah mulai
lesu. Kuliah saja dari hari senin sampai jumat. Waktu libur cuma hari sabtu dan
minggu. Waktu libur juga di gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah
sehingga kurang cukup untuk istirahat. Terasa sangat berbeda dengan masa-masa
SMA dulu. Dulu bisa santai dan istirahat sepuasnya, makan enak bersama keluarga,
dan tugas tidak sebanyak sekarang. Halimah mulai merasakan suka duka jadi
mahasiswa apalagi ketika uang sudah habis dan beasiswanya belum juga cair.
Sampai makan nasi pakai garam juga pernah ia rasakan. Namun, dari sini dia
belajar memaknai arti hidup. Hidup itu tidak instan, perlu usaha dan doa.
“Ya Allah. Hamba yakin setiap
keptusan-Mu adalah yang terbaik bagi-Mu. Ikhlaskanlah hati ini menerima
keputusan-Mu. Hamba berlindung kepada-Mu ya Rabb.” Halimah berdoa.
Hari demi hari dijalaninya. Suka duka
telah dilewatinya. Tidak terasa dia sudah mencapai semester akhir. Satu minggu
lagi dia akan wisuda dan meraih gelar sarjana. Dia merasa bahagia karena
setengah dari impiannya sudah tercapai.
Tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Hari
yang paling bersejarah selama hidupnya. Ribuan mahasiswa berkumpul di Gedung
Sultan Suriyansyah dengan memakai toga dan membawa keluarga masing-masing.
Wajah berseri-seri sangat tampak di muka para mahasiswa. Halimah juga tak kalah
bahagianya karena ia lulus cuma dengan waktu tiga setengah tahun dan comlaude.
“Selamat!” kata Nailah sambil mendekati
Halimah.
“Terima kasih Nai. Jangan lupakan aku
kalau kamu sukses nanti.” jawab Halimah.
“Pasti! Kita tetap sahabat selamanya.” Nailah
meyakinkan dan sambil tersenyum manis sehingga Nampak terlihat lesung pipitnya.
Kini saatnya ia harus kembali ke kampung
halamannya. Siap meninggalkan kampus tempat ia menimba ilmu dan meraih prestasi.
Rasa tak sanggup untuk meninggalkan kenangan indah bersama teman-teman. Apalah
daya, ibarat pepatah mengatakan “Sejauh-jauh burung terbang dan akhirnya
kembali kesarangnya juga.” Begitu juga dengan Halimah yang berasal dari kampung
harus kembali ke kampung pula. Namun, kepulangan Halimah tidak dengan tangan
kosong, ia pulang membawa gelar sarjana, dan ilmu bermanfaat yang nantinya akan diterapkan di
kampungnya. Ia telah berhasil mewujudkan keinginan bibinya sehingga ia makin
disayang dan dibangga-banggakan keluarganya. Bahkan banyak sepupu-sepupunya
yang iri dengan kesuksesannya. Walaupun banyak yang menyanjung tapi tidak
menggoyahkan keimanannya. Ia sadar bahwa roda pasti akan berputar. Mungkin saat
ini ia berada di atas dan nanti mungkin berada di bawah. Jadi, hal seperti ini
tidak membuatnya menyombongkan diri.
“Ya Allah yang maha pengasih. Tiada daya
upaya kecuali kekuatan-Mu. Nikmat-Mu begitu banyak sampai aku tidak bisa
menghitungnya. Engkau selalu mengabulkan keinginanku. Terima kasih ya Allah.
Bimbinglah aku ke jalan-Mu, yaitu jalan orang-orang yang Engkau ridhai. Aku
berlindung kepada-Mu ya Rabb.” Halimah berdoa sambil meneteskan air mata karena
sangat bahagia.
Satu tahun setelah lulus kuliah Halimah
menjadi PNS. Lebih berbahagianya lagi ketika melihat pengumuman bahwa ia di
tempatkan di kampungnya. Dengan dia mengajar di kampungnya sendiri maka semakin
mudahlah Halimah untuk meningkatkan mutu pendidikan di kampungnya. Hal ini juga
memudahkannya untuk membangun kampungnya agar maju seperti di kota-kota.
Terwujudlah sudah impiannya sejak kecil yang berkeinginan memajukan kampungnya.
SELESAI
KUMPUTNYA CINTA DIAMBANG TEMAN
Hujan gerimis membasahi dedaunan. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang sehingga membuat Erma terhenti dari perjalanan. Dari kejauhan terlihat sebuah pondok di balik pepohonan yang rindang. Erma mampir sebentar. Dia berjalan mendekati pondok. Dia terkejut ketika melihat ada sesosok perempuan yang duduk di pondok itu. Perempuan itu ternyata adalah Azizah temannya sendiri. Dia duduk mendekati Azizah. Mereka bercerita masalah perasaan pada saat itu. Betapa terkejutnya Erma ketika mengetahui bahwa temannya sendiri ternyata mencintai orang yang juga dia cintai. Dia berusaha untuk menutupinya. Tidak mungkin dia menyakiti temannya hanya karena laki-laki.
“Aku sudah terlanjur terpuruk dalam sebuah lembah cinta yang nista. Apa boleh buat? Ingin aku berangan-angan, namun aku ditutupi angan-anganku. Ingin aku bercita-cita, namun apalah artinya sebuah cita-citaku. Ingin aku berharap, namun harapanku hancur begitu saja. Ini adalah puing-puing kehancuran dalam hatiku, membekas dalam jiwaku. Aku tidak bisa melupakannya, begitu berat aku melupakannya walaupun aku sadar bahwa aku tidak sanggup memilikinya. Gagal harapanku. Aku tidak bisa mendustai diriku sendiri, sekalipun orang itu membenci aku, sekalipun dia sangat memurkai aku, namun aku tetap untuk menyayanginya. Aku tidak mengerti apakah ini artinya sebuah cinta yag terlahir bagiku.” kata Erma dalam hati seakan tercabik-cabik.
Sayid adalah seorang pemuda tampan yang berkepribadian islami. Sekarang ia sedang sekolah di Pondok Pesantren Al-Muradiyah Negara. Ketampanan dan akhlaqnya itulah yang meluluhkan hati para wanita.
Hujan mulai reda. Mereka pulang menuju rumah masing-masing. Erma melangkah meninggalkan Azizah. Langkah dengan gontai, langkah dengan hampa yang seakan-akan hilang sebuah harapan. Pandangannya jauh seakan-akan dunia tidak mampu merangkul dia. Dia pandang burung-burung yang sedang terbang, berangan-angan ingin menjadi burung. Dia pandang bulan dikala malam, dia pun mengimpikan bagaimana hidup jadi bulan begitu tenangnya tanpa ada penderitaan. Hidup walaupun sendiri tanpa ada teman namun tak ada yang mengharui lidah dan perasaan, cukup memandang bintang-bintang yang bertaburan dimuka langit yang memancarkan sedikit cahaya di muka bumi namun menjadi sebuah keindahan alam. Erma pun berkata dalam hati, “seindah apapun kau bintang yang menghiasi langit, namun hatiku tertutup begitu mendaris oleh seseorang yang kucintai yang pernah melukai diriku. Kemana harus membawa diriku. Disana tidak bisa membahagiakanku. Kesana indah bagi orang lain namun suram bagi diriku. Walaupun orang lain terbuka, namun hatiku sudah tertutup oleh kesuraman dan kasih sayang tak perlu kudapatkan.”
Terus termangu-mangu Erma. Mau kesana salah mau kesini salah. Kita tengok Azizah juga begitu, duduk disana salah, duduk disini salah. Berdiri salah berjalan salah. Hatinya selalu berkata “kenapa jadi harus begini. Aku sudah berusaha ingin membahgiakan orang lain, ternyata kehadiranku pengganggu dan pengacau bagi orang lain. Aku sudah bertekad kuat menjauh dari cinta orang lain, meletakkan kasih sayang dari orang lain menuju kedamaian, ternyata kesengsaraan bagi orang lain.”
Lalu kita tengok kembali Erma yang sedang berduka. Kadang-kadang di sudut rumah, kadang-kadang di tepi jalan, kadang-kadang di tempat kerja, selalu merenung membayangkan orang yang pernah menyelinap dalam hatinya, orang yang selalu hinggap dalam persaannya, yaitu Sayid. Selalu terbayang melihat seseorang, selalu membayangkan, mendengar suara seakan-akan suara dia, melihat lambaian seakan-akan lambaian tangannya. Begitulah orang yang jatuh cinta. Hati Erma berkata “adakah suatu jalan buatku yang memberikan harapan, keindahan, dan kecermelangan di belakang hari. Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan hambamu ini yang terus sengsara di dalam percintaan. Ya Tuhan, siapa sebenarnya diriku ini. Haruskah aku melangkah mengiringi bayang-bayang yang tidak menentu, haruskah aku mengejar bayang-bayang patamorgana belaka, haruskah aku berharap kepada awan putih yang segera memberikan hujan air sejuk dalam tubuhku, haruskah aku mengharapkan kepada setitik embun dikala mentari di tengah hari. Oh, mengingat sebuah laut, batu karang pun di hantam badai, hatiku hancur berkeping, bagaimana menyatukan perasaanku lagi, sanggupkah aku memberikan kasih sayang kepada orang lain, sanggupkah aku mengenal orang lain setelah ini. Aku sudah mencoba memandang orang lain dengan jiwa dan rasa, aku sudah mengangan-angankan orang lain lebih tampan dari dia, aku sudah mencoba mengenal orang lain yang lebih baik dari dia, aku sudah mencoba memandang mengenali alam semesta begitu indahnya, namun tidak bisa merubah detak jantungku yang selalu menyebut nama dia.”
Azizah berdo’a, “Ya Tuhan ya Karim, hamba telah melakukan kesalahan yang tak pernah disukai, hamba harus bagaimana, apakah hamba melepaskan segalanya, apakah hamba harus meninggalkan semuanya, apakah hamba harus bercerai dari mereka, kalau itu hamba lakukan semuanya malah mengundang bencana. Ya Tuhan, hamba juga punya rasa, hamba juga punya cinta, hamba juga menggapai asa, namun semua rasa dan perasaan ini sangat pedih. Perasaan suka memang wajar, tetapi menimbulkan tangisan dan isak. Satu sisi adalah temanku, satu sisi laki-laki tersebut menggodaku. Haruskah aku berada di tengah-tengah, bagaikan berada di tengah-tengah dua jalur, jalan mana yag harus kutembus, seakan-akan aku berada di atas awan yang akan melangkah turun ke bumi, bumi mana yang harus kupijak. Ya Tuhan, ibarat nelayan yag berada di tengah lautan, arah kemudi yag kudapatkan dan arah angin yag kuterima, harus yang mana yang kumainkan, sudah kuarahkan arah kemudi namun arahnya tidak menentu, haruskah aku mengharap angin dari langit namun arahnya pun belum tentu mengantarkanku ke tempat pantai bahagia. Sikapku sekarang mengantara. Letak dan kepribadian ku juga salah, aku membawa diri serba tidak cocok, apakah ada suatu jalan yang engkau beri saat ini. Untuk saat ini aku termasuk dalam sebuah perangkap yang sangat sulit aku lepaskan. Aku selalu mencari jalan keluar namun pintu sudah tertutup. Aku hanya berharap kepadaMu ya Tuhan, aku pasrah dengan kejadian ini, aku ikhlaskan segalanya kepadaMu.”
Tiba-tiba setelah berduka, timbul dalam hati Azizah aku cukup minta ma’af nanti. Timbul juga dalam hati Erma, tidak ada lagi yang aku lakukan selain aku minta ma’af.
Tanpa di sengaja sepulang kuliah mereka berdua bertemu. Mereka berdua saling bermaafan dan berjanji akan menjadi sahabat. Kisah percintaan yang terjadi antara mereka pun berakhir dengan ikatan persahabatan.
Itulah segelintir kisah kenangan indah antara dua bersahabat.
Aku
dan Kakakku
Sehari setelah lebaran aku berencana akan pergi ke Banjarmasin.
Sebelum berangkat aku ingin membeli handphone terlebih dahulu. Ketika
siap-siap berangkat tiba-tiba aku mendapat SMS dari kaka tersayangku. Dia
menyatakan bahwa akan berkunjung ke rumah untuk silaturrahmi. Betapa
terkejutnya aku karena aku tidak menyangka dia mau berkunjung dengan secepat
kilat. Kemudian dengan secepat kilat juga aku membatalkan membeli handpone dengan sepupuku.
Hatiku
dag dig dug bercampur gelisah karena ingin pulang ke Banjarmasin dan sambil menunggu
kedatangannya juga sambil mempersiapkan segala sesuatu. Aku menunggu di depan
langgar Nurul Iman untuk menujukkan arah menuju ke rumahku. Beberapa menit
menunggu muncullah dua orang sosok laki-laki yang gagah. Subhanallah..,
ternyata dia kakaku dengan pamannya. Kutunjukkan arah menuju rumahku dan aku
mampir sebentar ke toko membeli makanan ringan.
Sesampainya
di rumah kakakku malu-malu tidak berkata-kata sepatah pun. Aku pun juga malu
karena pertama kali bertemu. Empat tahun setengah lamanya aku berteman
dengannya baru ini aku bisa memandang wajah aslinya. Apabila dia memanadangku
aku menunduk dan apabila aku memandangnya dia juga menunduk. Inikah yang
dinamakan pandangan pertama. Hatiku berbunga-bunga bagaikan di taman surga.
Kurang
lebih sepuluh menit kakakku berpamitan ingin pulang. Aku pun mengantarkannya sampai
teras. Ketika dia naik kendaraan dia tersenyum manis memandangku, aku pun
sebaliknya membalas senyumnya. Senyumnya itulah yang sampai ini tidak bisa
kulupakan.
Aku memang sangat menyayanginya, karena
menurutku dia itu selalu jujur dan terbuka denganku dan aku merasa nyaman
dengannya. Dialah yang selalu memberiku semangat sejak aku Madrasah Aliyah
sampai aku kuliah sekarang. Betapa perhatiannya dia kepadaku apalagi masalah
menuntut ilmu, dia terus membimbingku agar aku jadi wanita salehah. Aku selalu
menurut apa yang dikatakannya, aku tidak pernah berani menentangnya, bahkan aku
sangat takut kalau sampai membuat hatinya tidak nyaman.
Kata-katanya yang selalu kuingat adalah
“bujur-bujur sekolah,” karena dia menginnginkan aku sukses. Aku pun ingin dia
sukses. Yang kuharapkan adalah agar dia benar-benar fokus menghapal al-qur’an,
jangan sampai hapalannya rusak dikarenakan masalah dengan perempuan apalagi
aku. Kami selalu saling mengingatkan.
Seandainya aku bisa memilikinya akan
terasa sudah surga dunia. Namun, hal ini tidak akan mungkin terjadi, karena aku
sudah menjadi saudara angkatnya. Walaupun hanya sebatas saudara aku sudah
merasa memiliki sebagian hatinya. Aku akan tetap menyayanginya walaupun dia
menjadi milik orang lain. Kami akan tetap menjalin silaturrahmi sampai mati.
Indahnya persaudaraan diikat dengan tali silaturrahmi dan iman.
Semoga persaudaraan kita diridhai Allah
dan semoga selalu dalam rahmat-Nya. Amiin Yarabbal Aalamiin. :-)
PENYESALAN
KARENA OLAH RASA
Dosenku masuk ruangan tidak seperti
biasanya. Aku gugup dan teman-teman pun diam seperti mengheningkan cipta.
Dosenku mengumbar amarahnya, suasana kelas hening seketika. Tiba-tiba saja kami
disuruh merenung dengan memejamkan mata. Kami diperintahkan untuk merenungi
kegiatan apa saja yang di lakukan dari bangun tidur sampai masuk dan duduk di
dalam kelas, merenungi hal-hal yang yang menyenangkan dan menyedihkan,
merenungi apa yang di harapkan orang
tua, merenungi kesalahan-kesalahan, dan di suruh berjanji dengan diri sendiri
akan memperbaiki semuanya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Aku
menyesali perbuatan-perbuatanku selama ini sudah mengecewakan bibiku, bahkan
juga guruku. Satu tahun setengah aku kuliah belum juga ada perubahan. Aku
disini hanya menghabiskan uang dan menyiakan-nyiakan waktu. Waktunya untuk
bebas, melakukan apa saja yang diinginkan tanpa ada yang melarang. Disini aku
bisa telponan sepuasnya, berbelanja sebanyak-banyaknya, bermalas-malasan
seenaknya bahkan waktu seharian hanya di gunakan untuk uring-uringan. Tidak
seharusnya aku melakukan hal yang membuatku bodoh. Padahal bibiku mengharapkan
aku kuliah untuk menuntut ilmu dan menjadi anak yang berguna. Ternyata orang
yang diharap-harpkan dan dibiayai kuliah menyia-nyiakan kesempatan ini dan
bahkan menyalah gunakannya.
Aku
tidak tahan membendung air mata menyesali perbuatanku. Betapa bodohnya aku. Seandainya
bibiku mengetahui keberadaanku disini, dia pasti sangat marah. Aku juga merasa
malu kepada tetangga-tetanggaku yang memandang aku pintar karena berhasil
mendapatkan beasiswa. Aku memang bisa memndapatkan nilai yang lumayan, tapi itu
hanya nilai belaka. Nilai memang mudah didapatkan, tapi ilmunya yang sulit
untuk dimengerti. Apakah ini karena aku
belum memiliki niat kuliah ataukah karena memang aku ini pasrah, aku tidak
mengetahuinya.
Menurutku
kuliah tidak ada gunanya awalnya, tapi sekarang sudah berubah. Dahulu memang
aku ingin sekolah pondok pesantren karena aku memyukai pelajaran tentang ilmu
agama. Tetapi karena masalah dana dan dorongan keluarga sehingga aku harus
kuliah. Saat ini mungkin aku belum merasakan manfaatnya, tapi aku yakin ilmu
yang dipelajari pasti berguna. Walaupun yang kupelajari hanya ilmu dunia, tapi
inilah jalan yang harus kutempuh. Dengan ilmu dunia bisa saja digunakan untuk
kepentingan akhirat.
Saatnya
aku harus bagkit dari kegelapan untuk meraih masa depan yang cemerlang. Sejak
aku masih sekolah memang bercita-cita ingin menjadi guru, mustahil kalau aku
seperti ini saja tidak ada perubahan. Aku berjanji pada diriku akan bersungguh-sungguh
belajar dan menggunakan waktu sebaik-baiknya. Kesempatan kali ini tidak boleh
lagi diabaikan. Dari olah rasa ini membuatku sangat menyesal dan ingin kembali
bangkit. Dimulai dari sinilah membuatku semangat belajar, mulai berfikir
cemerlang dan membagi waktu agar bermanfaaat. Aku ingin menjadi kebangaan
keluargaku dan guru-guruku. Aku ingin melihat orang tuaku, bibiku, guruku dan
orang-orang di sekitarku bahagia. Tidak ada hal yang paling membahagiakan
selain melihat orang-orang di sekitarku bahagia. Dengan tanganku sendiri akan
kulakukan semua yang masih bisa kulakukan.
Seekor Ikan Kecil ( Pepuyu Begincu
)
Di
sebuah sungai hiduplah sekumpulan ikan-ikan kecil. Yang mana ikan-ikan itu
pandai bersolek, menghiasi diri seakan-akan seperti perlombaan. Semua itu
dikarenakan pergaulan-pergaulan yang bercampur aduk. Hingga tanpa disadari
mereka melakukan hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Mereka menghiasi
diri dengan cara yang salah. Seolah-olah sengaja memamerkan keelokan ekor-ekor mereka
untuk menarik perhataian ikan-ikan lainnya. Tidak ada rasa malu, bahkan itu
dibilang mereka kehidupan, kehidupan yang bebas dengan warna-warni mereka.
Di antara sekumpulan ikan itu ada seekor
ikan kecil yang masih lugu. Sebagai ikan yang masih lugu tentu belum mengetahui
dalamnya sungai tersebut. Sekumpulan ikan itu mengajaknya ikut bermain dan
bernyanyi bersama. Karena bujuk rayu temannya yang menjanjikan kesenangan dan
impian jadi kenyataan, tentu saja menjadikan pemikiran dan rasa penasaran bagi
ikan kecil itu. Kemudian rasa ingin mencoba pun timbul dibenaknya.
Akhirnya
ikutlah seekor ikan kecil itu bersama mereka. Dengan semangat mereka menelusuri
kedalaman sungai dan merasa penuh penasaran seperti apakah tempat itu.
Sampailah mereka disebuah tempat yang tersembunyi, dimana tempat itu dikenal
sebagai tempat untuk bersenang-senang. Masuklah mereka ke sebuah ruangan, yang
mana ruangan itu penuh perhiasan yang gemerlap dan kelap-kelip laksana butiran
mutiara. Disisi-sisi mereka tersedia
bermacam-macam jenis minuman yang memabukkan. Mereka tergiur untuk menikmati
minum-minuman yang ada disisi-sisi mereka. Kemudian minumlah mereka dengan
bersenang-senang dan berfoya-foya. Sehingga dengan minuman tersebut mengakibatkan
hilangnya kesadaran dan membuat mereka lupa daratan. Tidak lagi mengenal
batas-batas norma kehidupan. Mereka berpesta pora menari-nari bersama pasangan
mereka yang tidak selayakanya mereka lakukan. Waktu terus berjalan, air sungai
terus mengalir, dan waktupun terlupakan begitu saja dengan sia-sia.
SALAH
NAIK TAKSI
Kisahku niti hanyar haja kajadiannya, puatan
sapuluh hari nang lalu. Aku ti cagarnya samalam kada handak umpat ma-ambil
kuliah samistir pindik, jadi bulik kampung-ai handak puasa di kampung halaman.
Imbah bulik ti bakukumpulan-ai lawan kaluarga. Pas itu ti ada sapupuku,
angahku, lawan acilku. Bakisah-ai aku masalah kuliah di Banjar.
Bapandir-bapandir lalu takisah agin aku sabanarnya ada pilihan atau kasampatan
kuliah samistir pindik pas bulan puasa niti. Sakalinya sapupuku ti manyuruh umpat
lawan angahku hakun mambayariakan. Hakun-ai aku nang ngaran disuruh kaluarga
ti.
Kaisukan harinya tulak-ai aku ka
Banjarmasin. Aku ti sudah bajanji lawan paman Iyus, supir taksi nang sudah
lawas langganan masi bulang bulik Banjar. Lawas banar mahadangi sampai panat
duduk. Sakalinya pamannya manalipun mamadahakan sidin parak sampai sudah.
Badiri-ai aku handak basiap-siap,
sakalinya pas taksi datang.
“Ikam nang manalipun aku kalu?” ujar
supir taksi turun mandatangi aku.
“Inggih.” jarku manyahuti. Padahal di
hati batanya-tanya “Kanapa paman taksinya lain nih? Palingan baganti kalu
pamannya, mun muturnya asa iya haja pang.”
Babuat-ai aku ka dalam taksi sambil
mambuat barang-barang jua.
“Mana, mama kam?” jar supir taksi.
“Aku surangan haja, Paman-ai! Ni mutur
paman Iyus, kalu?” jarku batakun.
“Lain. Nah, Ikam salah taksi.” jar
supirnya pulang.
Uma-ai aku supan banar salah naik taksi
tutih. Bagagas-ai aku turun kasupanan. Sakalinya taksi paman Iyus ti di
balakang datang jua taimbai. Babuat-ai aku ka dalam taksi sidin.
“Kanapa ikam bapindah taksi?” jar
lalakian nang duduk dihigaku.
“Tadi tasalah taksi Pa-ai. Paman taksi nang
tadi mangira aku niti urang nang bajanji minta hadangi sidin karana kabatulan
tampatnya sama. Sadangkan aku mangira pamannya baganti lawan pas banar tutih
pamannya manakuni ikam kalu nang manalipun? jar sidin, pas banar aku hanyar
batalipunan jua lawan paman Iyus.” aku manjalasakan sambil kasupanan.
TAMAT
sungguh produktif,. ini blog yg q bikinkan semalam kh????
BalasHapusAli, maaf baru balas. Baru tebuka lagi.
BalasHapusIya ini buatanmu kemarin. Tapi tidak ada lagi karya yang bertambah. Hoho